Tidak Tahan Dianiaya Istri, Seorang Guru Minta Cerai

Source: Internet

 

Lantaran tidak tahan dengan sikap istri, Syamsuddin (59) mengajukan permohonan cerai ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kasi Pembinaan Pegawai BKD, Arifin M Amin mengatakan, seorang guru pada salah satu sekolah di Bima itu mengajukan permohonan izin untuk melanjutkan proses cerai ke Pengadilan Agama (PA).

“Samsudin mengajukan permohonan izin cerai terhadap istrinya, Roswati sejak tanggal 6 Juni 2017. Dia meminta izin cerai dengan alasan tidak ada keharmonisan dalam berumah tangga,” kata Arifin saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (21/12/2017).

Ia mengatakan, pihak suami sudah bulat memutuskan cerai dengan istri setelah 9 tahun menjalin hubungan rumah tangga. Syamsuddin memutuskan cerai karena tidak tahan dengan sikap istri yang kerap marah-marah.

“Dari keterangannya, istrinya suka marah-marah. Bahkan ia mengaku sering dimaki dan dihina depan umum. Makanya dia minta cerai. Padahal itu masalah sepele dan masih bisa diperbaiki,” ujar Arifin.

Ia mengaku, Roswati adalah istri kedua Syamsuddin dan telah dikarunia seorang anak. Dia menikahi Roswati pada 2009, setelah istri pertamanya meninggal dunia beberapa tahun silam.

“Awalnya, dia ini duda karena istrinya meninggal dan memiliki 4 orang anak. Kemudian ia menikah dengan Roswati yang juga statusnya janda. Mereka menikah pada 28 Januari 2009 dan telah dikarunia seorang anak,” tutur dia

Menurut Arifin, sebelumnya, hubungan pasutri ini cukup harmonis. Namun seiring berjalan waktu, hubungan yang awalnya harmonis menjadi retak.

Puncak keretakan hubungan rumah tangga mereka terjadi setelah istrinya melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, Arifin belum pengetahui pasti penyebab penganiayaan yang dilakukan istri terhadap suaminya itu.

“Istrinya dituduh telah melakukan KDRT. Baik terhadap suaminya maupun terhadap anak bawaan suami. Entah penyebabnya apa, kita belum tahu persis akar permasalahannya. Intinya, dia beralasan tidak harmonis lagi,” ujar Arifin.

Sejak kejadian itu, kedua belah pihak telah pisah tempat tinggal. “Suaminya juga tidak berani pulang ke rumah, karena trauma,” ungkapnya.

“Dia sudah bulat memutuskan cerai, bahkan dia datang teriak ke BKD minta izin. Bilangnya sudah tidak tahan lagi,” tambahnya.

Menanggapi permohonan izin cerai tersebut, BKD berupaya melakukan mediasi serta pembinaan terhadap kedua belah pihak. Namun karena suami istri tetap pada pendiriannya pihaknya melakukan penelaahan sebelum diajukan ke bupati.

“Pihak suami tetap ingin mengajukan cerai talak terhadap istrinya. Sementara pihak istri, walau sudah diberikan pembinaan, yang bersangkutan tidak menunjukan perubahan perilaku. Bahkan dia memotifasi suaminya untuk bercerai,” ucap Arifin

Kini, hasil telaah pengajuan cerai sudah disampaikan ke Bupati.

Source :

Syarifudin

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


fifteen + 2 =