Mimpi Neli Beli Sepeda Motor dan Kacamata Imitasi Tak Terwujud

Source: Internet

 

Tatapan mata Maryasih (38) tampak kosong saat terduduk lemas di kursi depan kamar jenazah RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (31/10/2017) petang.

Ia datang ke RS Polri untuk mengambil jenazah putri pertamanya, Neli (16), yang telah teridentifikasi sebagai korban tewas dalam ledakan dan kebakaran di pabrik kembang api PT Panca Buana Cahaya Sukses di Kosambi, Tangerang, Banten, enam hari lalu.

Namun, ia mengaku tak kuat melihat langsung prosesi pemasukan jenazah anaknya ke dalam peti jenazah.

Maryasih menceritakan, putri keduanya, Manda (14), mengaku kepadanya sempat bermimpi didatangi kakaknya, Neli, sehari setelah kebakaran hebat di pabrik kembang api PT Panca yang membuat lebih 47 pekerja tewas mengenaskan. Neli berpesan dalam mimpi sang adik agar jangan mencari dirinya.

“Neli bilang di mimpi Manda, katanya, ‘Sudah, jangan nyariin Neli. Neli ada’. Itu pesan dia,” ucap Maryasih lirih dengan mata memerah.

Maryasih mengungkapkan, Manda kerap menangis pasca-mimpinya itu. Kesedihan Manda makin menjadi setelah pihak DVI memastikan kakaknya teridentifikasi di antara para jenazah korban tewas yang ada di kamar jenazah RS Polri.

“Saya dan Manda sangat kehilangan. Kita kepikiran terus, dan jadi enggak nafsu makan. Ada adik di dalam kamar identifikasi jenazah. Saya enggak kuat, di sini aja,” imbuhnya.

Maryasih menceritakan, Neli memilih bekerja di pabrik petasan tersebut selepas lulus SMP, karena mengetahui ketidakmampuan ekonomi orangtuanya. Karena alasan itu juga, Neli bersedia menerima ajakan temannya untuk bekerja di pabrik yang memproduksi barang berbahaya tersebut.

Neli sendiri belum genap sebulan bekerja di pabrik kembang api itu. Maryasih mengenang Neli sebagai anak yang pendiam dan tidak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Ia lebih memilih menceritakan hal itu kepada teman sepermainannya.

Ia mengakui, gaji yang diterima oleh Neli dari pekerjaannya mengemas kembang api di PT Panca sangat kecil. Namun, Neli mempunyai rencana untuk membeli sepeda motor dan sebuah kacamata imitasi dari hasil gajinya itu.

Namun apa daya, Maryasih yang sehari-hari bekerja sebagai perawat empang itu, pun tidak bisa membantu mewujudkan keinginan putrinya tersebut.

“Baru gajian tiga minggu. Karena kejadian itu Hari Kamis, sebelum Neli gajian,” jelas Maryasih seraya menundukkan kepalanya.

Rencananya, jenazah Neli dimakamkan di Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tangerang. Maryasih berharap pihak perusahaan bertanggung jawab atas kejadian kebakaran yang membuat dia kehilangan buah hatinya.

“Saya ingin Neli pulang, tapi enggak mungkin. Karena saya orang enggak mampu, saya ingin perusahaan bertanggung jawab,” tuturnya.

“Tapi, sampai hari ini belum ada pihak perusahaan atau pemerintah yang menemui saya untuk bilang belasungkawa, apalagi memberikan santunan,” sambungnya.

Source :

Gita Irawan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


16 − 6 =