Jangan Seperti Harimau Jawa yang Tahu-tahu Punah

 

Meski jumlahnya menunjukkan peningkatan, keberlangsungan populasi badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon tetap perlu mendapat perhatian yang serius. Saat ini badak bercula satu itu diperkirakan berjumlah 67 ekor.

Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) bersama WWF Indonesia, Yayasan Badak Indonesia, dan sejumlah lembaga lainnya telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan badak Jawa. Badak Jawa adalah warisan anak-cucu kita yang harus dijaga.

“Badak Jawa nggak ada di kebun binatang mana pun di dunia. Tidak ada yang berani mengambil. Tapi, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, justru jangan seperti kasus harimau Jawa. Kita belum melakukan apa-apa, tahu-tahu punah,” ujar Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat kepada tim detikXpedition, Mei 2017.

Kami sengaja bertamu ke Balai TNUK sebelum menjelajahi kawasan TNUK. Selain mencari bekal wawasan tentang badak, tim menggali informasi tentang keberadaan dua individu badak yang keluar dari zona inti di Kampung Cegog. Berikut ini wawancara anggota tim detikXpedition, M. Rizal, dengan Mamat selengkapnya.

Berapa jumlah populasi badak di kawasan TNUK?

Kawasan TNUK ini salah satu dari lima taman nasional tertua di Indonesia dengan luas sekitar 120.551 hektare berdasarkan penunjukannya, dan ditetapkan pada 2014 sekitar 105 ribu hektare. Dari luas itu semua, hanya 40 ribu hektare yang menjadi habitat badak Jawa di Semenanjung Ujung Kulon.

Badak Jawa adalah salah satu dari lima badak yang ada di dunia. Jadi di Indonesia itu punya dua jenis badak, yaitu badak Jawa di Ujung Kulon dan badak Sumatera. Nah, badak Jawa adalah satu-satunya yang ada di dunia. Terakhir, pada 2010 di Vietnam, jenis badak Jawa sudah punah dan di Indonesia hanya ada di Ujung Kulon.

Jumlah populasi badak Jawa di Ujung Kulon dari tahun ke tahun mengalami peningkatan populasi, yang totalnya pada 2017 ini ada 67 badak. Terakhir, dengan analisis video trap pada 2016, ada penambahan empat individu badak yang baru lahir. Pada 2015, total badak 63 ekor, sehingga kini jumlahnya 67 ekor.

Tiap tahun kita melakukan monitoring badak dengan video trap. Kami punya 100 video trap yang dipasang di seluruh kawasan habitat badak Jawa. Kita ingin mengetahui populasi, karakter, dan sebarannya. Perlu diketahui, sebaran badak Jawa ini sangat terbatas, sangat-sangat terbatas, hanya ada di Ujung Kulon, dengan area kurang-lebih 40 ribu hektare. Jadi sangat rawan terhadap ancaman kepunahan.

Apa lagi kekhasan badak Jawa lainnya?

Keunikan badak Jawa itu kulitnya berlipat dan bermozaik. Kalau dia rebahan di tanah yang basah, akan muncul mozaik-mozaiknya. Dan lipatan kulitnya, di leher ada lipatan, di pinggang ada lipatan. Dia seperti memakai baju perang besi di zaman Romawi dulu. Makanya kelihatan purbanya badak Jawa. Dan mulutnya lebih prehensil, ada belalai kecil, beda dengan badak Afrika, yang mulutnya besar karena makan rumput kayak kuda nil. Kalau badak Jawa, ada belalai kecil, yang fungsinya mengait makanan. Makanya badak Jawa makannya bukan rumput, tapi pucuk-pucuk daun, kulit, liana-liana, atau buah.

Dari 67 ekor itu, bagaimana komposisi jantan, betina, dan anakan?

Jadi dari 67 individu, memang secara sex ratio kurang ideal. Karena lebih banyak jantan. Jantannya itu ada 37, betinanya ada 30. Yang ideal itu satu jantan minimal dua betina. Lebih bagus lagi mamalia itu sebenarnya satu banding empat. Satu jantan empat betina, itu baru bagus sekali.

Badak Jawa lebih banyak jantan daripada betina, sehingga fight di antara pejantan memperebutkan betina sangat tinggi. Padahal waktu pembuahan sangat pendek. Perebutan atau perkelahian itu dapat menurunkan mood, sehingga tak terjadi pembuahan. Akibatnya, tidak mungkin ada kelahiran. Ini menjadi salah satu alasan lambannya penambahan populasi badak Jawa. Memang harus ada satu strategi untuk menyeimbangkan sex ratio itu.

Artinya, hal itu juga dapat menyebabkan badak Jawa punah?

Iya, salah satunya. Kepunahan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal itu datang dari individu badak itu sendiri. Dengan kualitas genetik yang menurun, perkawinan sedarah menyebabkan kualitas genetik menurun dan jadi penyebab kepunahan juga.

Ada juga faktor eksternal, yaitu dari lingkungan. Kondisi habitat yang terdegradasi akibat perambahan hutan juga bisa menjadi ancaman terhadap badak Jawa. Habitat yang terdegradasi akan mengurangi pakan. Bisa juga degradasi akibat habitat pohon langkap. Satu jenis pohon langkap (Arenga obtusifolia) itu sangat invasis, sehingga menginvasi area dan menghambat tumbuhnya pakan badak karena kurang cahaya matahari. Ini yang juga perlu, pengendalian langkap.

Juga perburuan oleh manusia yang paling dikhawatirkan, baik terhadap badak Jawa maupun badak lainnya. Alhamdulillah, untuk di Ujung Kulon, mungkin sekitar 20 tahun belakangan ini aktivitas perburuan bisa dianggap pasif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kita lengah. Kita tetap waspada. Ini akibat pendekatan dengan masyarakat yang baik untuk meminimalkan perburuan. Juga meminimalkan persaingan antarhabitat. Misalnya banteng dengan badak. Tsunami, krakatau meletus, juga jadi ancaman.

Dengan ancaman-ancaman ini, perlu ada lokasi-lokasi lain untuk penempatan badak. Ini yang dilakukan presiden kedua kita, Presiden Soeharto. Bagaimana orang Jawa bisa survive di Sumatera dan lain-lain kalau Jawa tenggelam. Dengan cara transmigrasi. Strategi ini pun bisa dipakai di satwa. Badak ini harus ditranslokasikan, ditransmigrasikan sebagian. Supaya, kalau ada bencana di Ujung Kulon, ada cadangan di tempat lain.

Rencananya akan dipindah ke mana?

Nah, ini sedang digagas, dan sudah dilakukan beberapa survei di beberapa tempat. Survei ke Hutan Sancang, Gunung Halimun, Baduy, Cikeusik (Pandeglang), dan ke Sukabumi ke Marga Satwa Cikepuh. Dari penilaian semua tadi, yang mendekati habitat di Ujung Kulon adalah di Cikepuh. Ini sudah kami usulkan ke Pak Dirjen, minta persetujuan agar Cikepuh menjadi salah satu calon habitat baru bagi badak Jawa. Di sana itu ada 8.000 hektare, sekarang Cikepuh dengan Ciletuh dijadikan GeoPark.

Sebenarnya apa yang menjadi kendala dalam mengelola lahan seluas TNUK ini?

Dalam manajemen TNUK, sebenarnya pengelolaannya pada badak. Pemberdayaan masyarakat juga untuk badak. Semua untuk badak. Jadi pelestarian untuk badak. Jadi apa yang dilakukan ini sesuai dengan rencana strategi pelestarian badak Indonesia. Kita diamanatkan untuk meningkatkan populasi badak Jawa, menyiapkan lokasi kayak di Way Kambas. Juga menyiapkan lahan baru.

Kita sudah lakukan pengamanan agar badak itu tenang dan nyaman. Kami punya tim pengamanan, ada pengamanan yang sifatnya regular dan stationer, ada pengamanan mobile. Pengamanan stationer itu sifatnya berbasis resor. Kami punya 15 resor. Kami punya juga pengamanan mobile, Rhino Protection Unit (RPU). Ini kerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia dan WWF dalam pendanaan. Tim RPU ini terdiri atas satu petugas TNUK dan tiga dari masyarakat. Bagaimana memonitor jumlah dan perilaku badak, kami ada Rhino Monitoring Unit (RMU). Ini anggota timnya dari masyarakat. Satu timnya satu petugas TNUK dan 4 warga.

Lalu ada tim Rhino Health Unit (RHU). Tim ini memonitor kesehatan dan mengumpulkan sampel kotoran badak untuk penelitian genetiknya, kekerabatan antarindividu. Untuk tim RHU ini, kita bekerja sama dengan LIPI dan IPB. Ada juga tim khusus Tim Langkap dan Habitat, jadi pengendalian langkap. Jadi sebagian ditebang agar membuka ruang bagi tumbuhan pakan badak. Satu tim sama isinya, satu petugas anggotanya masyarakat. Jadi ini memang kita giatkan pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat ini membantu peningkatan ekonomi, peningkatan kapasitas, guide, portir, dan lain-lain. Daripada berburu badak, lebih baik berburu wisata. Jual foto badak dan kerajinan dan sebagainya. Masyarakat dilatih buat handicraft, juga bangun kemitraan. Bahwa TNUK ini amanah, titipan buat anak-cucu. Kalau badak diburu, akan habis. Tapi, kalau jual fotonya, badak akan awet. Itu mengubah mindset masyarakat.

Bisa disebutkan upaya apa lagi yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungan badak Jawa?

Badak Jawa nggak ada di kebun binatang mana pun di dunia. Tidak ada yang berani mengambil. Tapi, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, justru jangan seperti kasus harimau Jawa. Kita belum melakukan apa-apa, tahu-tahu (harimau Jawa) punah. Makanya, dalam strategi rencana aksi badak Indonesia, sudah mulai diteliti genetiknya. Harus di tangkaran. Makanya dibuat penangkaran oleh Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), dibuat pagarnya.

Tahun ini kita finalisasi kelembagaan kolaboratif, penataan blok, blok wisata sebelah mana. Karena, harapan saya, di dalam JRSCA salah satunya mendukung wisata alam. Kan badak Jawa susah dilihat, mau ke kebun binatang nggak ada. Beda dengan badak Sumatera, ada di Way Kambas, bisa dilihat. Ini tantangan. Petugas sih masih bisa melihat badak, tapi bagaimana dengan masyarakat yang mau melihat?

Salah satu solusinya akan dibuat di blok wisata di JRSCA. Jadi badak yang secara genetik sudah tua, tidak mungkin ngawini lagi, tidak mungkin melahirkan lagi, itu akan kita akan ambil, kita kandangkan di blok wisata, sehingga menjadi obyek wisata. Kita akan buat canopy tree untuk melihat dari atas.

Anggarannya berapa?

Anggaran pemagaran kemarin itu yang menangani Yayasan Badak Indonesia dengan dana dari International Rhino Foundation. Kisaran detailnya saya nggak paham, mungkin Rp 6 miliar. Itu baru pemagaran. Mengurus badak ini nggak bisa sendirian. Pemerintah tidak bisa membangun seluruhnya karena dananya juga terbatas. Jadi perlu dukungan stakeholder lainnya, mitra nasional. Kalau dana TNUK kan dari pemerintah pusat. Ke depan, saya harapkan pemerintah daerah juga dilibatkan dalam soal anggaran ini. Selama ini belum. Dari anggaran APBN itu kecil sekali. Anggaran APBN untuk TNUK itu sekitar Rp 23 miliar, tapi itu untuk gaji, belanja modal, belanja membangun kantor, jembatan, dan dermaga. Alokasi untuk monitoring badak itu ada kurang-lebih Rp 1 miliar. Ini untuk pemasangan camera trap (100 unit). Untuk JRSCA itu Rp 500 jutaan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


2 × 3 =