Ternyata Teroris Pasuruan Mau Bom TPS

Foto: Istimewa

 

Ternyata terduga teroris Pasuruan, Jawa Timur, berencana meledakkan bom di tempat pemungutan suara pada Pemilihan Kepala Daerah 2018.

Menurut Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, terduga teroris bernama Abdullah alias Anwardi (50), berencana menyerang lebih dari satu TPS. “Bom kelompok ini digunakan untuk menyerang TPS-TPS pada saat Pilkada,” kata Tito di Tangerang, Jumat 6 Juli 2018.

Menurut Tito, rencana tersebut diurungkan lantaran polisi dan TNI terus melakukan perburuan terhadap kelompok jaringan teroris yang sudah ditangkap mencapai 138 orang. Sekaligus telah menjaga keamanan selama pilkada tetap kondusif.  Sehingga kelompok dari Abdullah ini tak melakukan aksi teror.

“Setelah Bom Surabaya, kemudian kami melakukan pengejaran-pengejaran tekanan-tekanan ini membuat kelompok-kelompok ini menjadi ragu. Jadi rencana yang kelompok yang bernama Abdullah ini, dia untuk melakukan serangan, enggak jadi ada yang bilang oke, ada yang bilang tidak, ya akhirnya engak jadi produknya bom,” ujar Tito.

Ledakan Bom di Pasuruan Lukai Anak Berusia 6 Tahun

Maka itu, mantan Kapolda Metro Jaya ini menyebut peristiwa bom di Pasuruan bukan sebagai aksi teror yang dilakukan pelaku. Lantaran pelaku tak memiliki target sasaran yang akan ditujukan. Tito mengatakan, meledaknya bom tersebut, lantaran dimainkan anaknya yang berusia enam tahun yang turut menjadi korban luka-luka.

“Dari peristiwa ini, meledak sendiri bukan serangan teror. Bedakan kalau serangan teror itu bom di bawah menuju target. Ini nggak, bom lagi di rumah sendiri dimainin anak meledak,” kata dia.

Diketahui, bahwa diduga pelaku melarikan diri menggunakan sepeda motor usai tiga bom rakitan meledak di rumah kontrakan Jalan Pepaya RT 1, RW 1, Pogar bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis 5 Juli sekitar pukul 11.30 WIB

Sementara itu, isteri pemilik bahan peledak, bernama Dina Rohana (40) sudah diamankan oleh polisi untuk dilakukan penyelidikan.

Adapun korban yang mengalami ledakan bom yakni satu anak terduga pelaku berumur enam tahun yang kini masih dilakukan perawatan intensif di rumah sakit.

Kapolri: Bom di Pasuruan Meledak karena Sedang Dimainkan Anak Pelaku

https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 06 337 1918868 kapolri-bom-di-pasuruan-meledak-karena-sedang-dimainkan-anak-pelaku-BHTR1iVfuH.jpg

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, bahwa bom yang meledak di kontrakan yang berada di Kelurahan Pogar, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, bukanlah serangan teror. Tito menegaskan, bom tersebut meledak sendiri akibat dibuat main oleh anak pelaku.

“Ini peristiwa bukan serangan bom, tolong, bukan serangan teror, bukan. Tapi bom ini tadinya rencananya oleh kelompok ini digunakan untuk menyerang TPS-TPS pada saat Pilkada,” katanya usai mendampingi Presiden Joko Widodo di ICE BSD, Tangerang, Jumat (6/7/2018).

Dilanjutkan Tito, akibat perbedaan pendapat dalam internal kelompok itu. Akhirnya bom tidak jadi digunakan, dan disimpan di kontrakan yang dihuni oleh Abdullah, beserta istri dan satu anaknya. Namun kemudian, bom itu dimain-mainkan oleh anaknya hingga kemudian meledak sendiri.

“Karena memang kita melakukan operasi besar, 138 orang tertangkap setelah bom Surabaya, dan kemudian kita melakukan pengejaran-pengejaran kepada mereka. Tekanan-tekanan ini membuat kelompok ini ragu-ragu. Jadi rencana kelompok Abdullah ini untuk melakukan enggak jadi, ada yang bilang oke ada yang bilang tidak. Meledaknya bom ini karena sedang dimain-mainkan oleh anaknya,” imbuhnya.

Kini sang anak mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke rumah sakit, sedangkan Abdullah langsung melarikan diri. Jenderal Tito menyebut, bahwa bom termasuk kategori Low Eksplosive atau berdaya ledak rendah seperti yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan.

“Jenis bomnya jangan dibesar-besarkan, ini adalah low eksplosive seperti bahan mercon, tapi yang sering digunakan untuk bom ikan. Tapi kadang-kadang dipakai oleh kelompok teror ini,” ungkap Tito.

Masih kata dia, bom yang meledak di Pasuruan membuktikan bahwa tuhan pun tidak berpihak kepada kelompok teror. Sehinga bom lebih dulu meledak sebelum digunakan untuk meneror masyarakat luas.

“Ini sudah yang kedua kali, saya kira sahabat-sahabat kita sadarlah. Tolonglah dipahami, dievaluasi, benar atau tidak (teror) ini. Peristiwa di Sidoarjo pasca bom Surabaya,lagi merakit meledak sendiri di Rusunawa, bapaknya, istrinya, anaknya meninggal. Artinya apa, tuhan Allah SWT tidak merestui,” pungkasnya.

Source :

Viva

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


11 + 20 =