Terapi Kanker Paru

photo : beritasatu

 

 

Dr Elisna Syahruddin PhD SpP(K), perwakilan dari PDPI dan RSUP Persahabatan, mengatakan, sekarang ini perkembangan medis sedang dalam era personalized medicine, terapi yang diberikan ke pasien harus sesuai target (targeted therapy). Personalized medicine dan targeted therapy memerlukan biomarker untuk menentukan pasien yang tepat bagi terapi tersebut.

Biomarker EGFR (epidermal growth factor receptor) digunakan untuk mengidentifikasi pasien kanker paru, khususnya jenis adenokarsinoma bukan sel kecil, dimana di populasi Asia angka kejadian mutasi EGFR ini sebesar 40-60%.

“Meskipun kanker paru merupakan salah satu momok permasalahan di Indonesia, pasien dengan kanker paru masih memiliki peluang terhadap pengobatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Penatalaksanaan kanker paru disesuaikan dengan stadium kanker/kondisi pasien, antara lain seperti operasi bedah, radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi yang ditargetkan (targeted therapy),” ujar dr Elisna.

Pasien kanker paru yang sudah menjalani terapi lini pertama dengan EGFR TKI generasi 1 dan 2, biasanya pada 8 sampai dengan 14 bulan akan mengalami perburukan. Dua dari 3 pasien yang mengalami perburukan tersebut akan mendapatkan mutasi sekunder yaitu T790M6. BPOM telah menyetujui terapi untuk mutasi T790M yakni generasi ketiga Epidermal Growth Factor Receptor- Tirosine Kinase Inhibitor (TKI), suatu pengobatan yang menargetkan terapi pengobatan kanker untuk Non-Small Cell Lung Cancer dengan mutasi T790M pada pasien.

“Oleh karenanya pengobatan ini dapat menjadi harapan baru bagi para pasien,” ujar dr Elisna.

Dengan mempertimbangkan perkembangan manajemen kanker paru sejak 2016, Medical Director PT AstraZeneca Indonesia Andi Marsali mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan perusahaan diagnostik (Qiagen) untuk mengembangkan sejumlah lab EGFR di Indonesia. Pada 2017, pihaknya juga bermitra dengan perusahaan diagnostic lainnya, Bio-Rad, untuk menyediakan teknologi paling sensitif dalam mendeteksi mutasi T790M bagi Indonesia (digital PCSR) dan bermitra dengan Prodia Lab untuk pemeriksaan.

Mutasi ini akan membantu pasien untuk menjadi resisten terhadap pengobatan EGFR-TKI pertama dan kedua. Sejak 2014, lanjut dia, pihaknya terus mendukung penyediaan 2.000–3.000 tes diagnostik EFGR secara gratis, baik bagi pasien pribadi maupun BPJS setiap tahunnya. Mulai tahun ini pihaknya akan memanfaatkan dukungan bagi tes diagnostic untuk T790M dan menyediakan tes ct-DNA inovatif guna melengkapi tes biopsi.

“Kami juga bekerja sama dengan asosiasi medis untuk meningkatkan kapabilitas diagnosis bagi ahli patologi anatomi dan pulmonologi,” tutup dia.

Source :

beritasatu

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


13 + three =