Tebing 25 Meter Longsor, Jalur Utama Ponorogo-Pacitan Tertutup Total

Image : Liputan6

 

Akibat tertutup material longsor, KM 22 jalur Ponorogo – Pacitan yang berada di Dukuh Krajan, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo, tidak bisa dilewati. Pasalnya, material longsor yang terdiri dari batuan besar dan pepohonan itu menutup total jalan utama penghubung antara Ponorogo dan Pacitan.

“Kejadian longsor ini terjadi sekitar pukul 11.30 WIB, awalnya ada suara gemuruh ternyata ada longsor,” tutur Kepala Desa Tugurejo, Siswanto, saat ditemui di lokasi, Minggu, 25 Februari 2018.

Siswanto menerangkan material longsor menutup penuh jalan raya utama penghubung Ponorogo-Pacitan. Bahkan, kendaraan roda dua pun tidak bisa melintas di kawasan ini.

“Tertutup total, tidak bisa dilalui kendaraan,” ucapnya.

Menurutnya, longsor berasal dari tebing setinggi 25 meter. Longsoran tersebut menutup jalan dengan material longsor sepanjang 80 meter. Tebing yang longsor merupakan petakan lahan milik Perhutani, tepatnya petak 66 lahan Perhutani RPH Ponorogo barat.

“Longsor diduga karena hujan selama dua hari berturut-turut membuat tanah labil, meski saat kejadian tidak hujan deras,” ujarnya.

Pihaknya kini sudah berkoordinasi dengan BPBD Ponorogo serta Polsek Slahung terkait pengamanan jalan yang tertimpa longsor. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan dinas PU untuk pembersihan,” terangnya.

Jalur Alternatif

Sementara itu, Kapolres Ponorogo AKBP Suryo Sudarmadi menuturkan, akibat jalur yang tidak bisa sama sekali dilalui kendaraan, seluruh pengguna jalan diimbau untuk mencari jalur lain.

“Di sini ada jalur alternatif. Hanya saja bisa dilewati roda dua dan roda empat saja, kalau bus dan truk tidak bisa,” tuturnya.

Suryo menjelaskan jalur alternatif ini berada tepat di bawah jalan utama dan merupakan jalan desa yang hanya terbuat dari beton serta lebarnya hanya 2,5 meter. Maka itu, tidak mungkin bisa dilalui oleh kendaraan besar.

“Rawan licin sehingga pengendara harus berhati-hati saat melewati jalur alternatif,” ucapnya.

Kepala Resort Polisi Hutan Guyangan Darwitono saat ditemui menambahkan, longsor terjadi diduga karena adanya aliran air sela batu tebing menjadi pemicu longsor. “Diduga karena adanya aliran air di sela-sela batu sehingga rawan terjadi longsor,” imbuhnya.

Material longsor selain tanah juga membawa pohon pinus yang merupakan tanaman milik Perhutani. “Akibat kejadian ini, kami mengalami kerugian tanah dan batang,” ucapnya.

Hingga saat ini, kondisi cuaca di Kecamatan Slahung masih hujan deras sehingga rawan longsor susulan. Bahkan, akibat kejadian ini, longsor juga mengancam 13 KK yang berada tepat di bawah jalur utama Ponorogo-Pacitan.

Sejumlah warga mengaku waspada dan bersiap mengungsi jika sewaktu-waktu diperlukan.

Source :

Liputan6

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


1 × 4 =