Sempat dikritik, acara mancing relawan Jokowi tetap digelar di Selokan Mataram

merdeka.com

 

Merdeka.com – Sempat mendapatkan kritik dari aktivis pemerhati sungai, acara mancing geerrsama yang diadakan oleh Relawan Jokowi-KH Ma’ruf Amin Untuk Kemuliaan Indonesia (Rejomulia) tetap digelar di sepanjang Selokan Mataram, Yogyakarta, Minggu (9/9). Sebanyak 10 ton ikan lele dilepaskan oleh relawan Rejomulia di 14 titik di sepanjang Selokan Mataram.

Koordinator acara, Widihasto Wasana Putra mengatakan acara yang digelarnya merupakan even budaya yang melibatkan masyarakat. Acara tersebut juga merupakan acara bersama dan memberikan hiburan pada masyarakat.

“Kenapa namanya mancing geerrsama? Karena ini plesetan. Supaya menunjukkan kepada masyarakat jika acara ini penuh sukacita, kebahagiaan dan memberikan hiburan pada masyarakat. Selain itu masyarakat juga bisa menikmati ikannya,” ujar Widihasto, Minggu (9/9).

Widihasto menuturkan sebanyak 10 ton ikan jenis lele mutiara ditebar di sejumlah titik. Nantinya ikan tersebut dibolehkan untuk dipancing oleh masyarakat.

“Ikan lele jenis mutiara merupakan varietas hasil budidaya dari pemerintah. Ikan ini diambil dari hasil budidaya petani ikan di DIY. Di antara dari Sleman dan Imogiri,” ungkap Widihasto.

Acara mancing geersama ini sempat mendapatkan protes dari komunitas masyarakat pemerhati sungai yang menamakan diri Solidaritas Gotong Royong Peduli Lingkungan Sungai (Sogo Pelus). Komunitas itu menuding aksi mancing dengan melepaskan 10 ton ikan lele merupakan upaya merusak lingkungan dan ekosistem sungai.

Dalam siaran persnya, Divisi Advokasi Forest, (salah satu komunitas yang bergabung dengan Sogo Pelus), Hanif Kurniawan mengecam aksi pelepasan 10 ton ikan berjenis lele dumbo di Selokan Mataram. Menurutnya ikan lele dumbo adalah ikan invasif asing yang bisa mengganggu habitat asli Indonesia.

Hanif menjabarkan berdasarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam buku Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia, ikan lele dumbo termasuk ikan introduksi dan invasif asing. Sedangkan hika mengacu pada Permen KP No. 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri Ke Dalam Wilayah Negara Repubik Indonesia, lanjut Hanif ikan yang masuk kategori invasif seharusnya diserahkan dan dimusnahkan.

“Pengalaman buruk di Sumatra dan Sulawesi ini tentu tidak harus ditiru di Yogyakarta yang Istimewa ini hanya demi Ikan lele dumbo karna jelas merupakan Pencemaran dan Perusakan lingkungan. Dengan melihat dan mendasarkan atas analisa LIPI dan juga Tata Cara pelepas liaran (restokking) ikan versi Kementrian Kelautan dan Perikanan tesebut maka kegiatan pelepas liaran 10 ton lele dumbo di ekosistem Selokan Mataram sudah sepantasnya kita tolak,” tutup Hanif.

Source :

merdeka.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


fifteen − 8 =