Rupiah tengah melemah, masyarakat lebih pilih menabung

merdeka.com

 

Merdeka.com – Lembaga riset global, Nielsen, mencatat kecenderungan masyarakat Indonesia lebih memilih untuk menabung di tengah kondisi pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS (USD). Dalam Survei Keyakinan Konsumen Global yang dilakukan The Conference Board dengan Nielsen, ditemukan bahwa sepanjang triwulan kedua 2018 sebanyak 66 persen responden lebih memilih untuk menabung.

“Sekarang, kalau mereka ada ‘cash’ (uang tunai), itu akan banyak dipakai untuk menabung,” kata Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, seperti dikutip dari Antara dalam paparannya di Jakarta, Rabu (5/9).

Di urutan kedua, konsumsi masyarakat diperuntukan untuk liburan. “Jadi dalam survei ini liburan angkanya tetap naik yakni 46 persen, naik dari triwulan sebelumnya sebesar 44 persen. Baru kemudian uang mereka untuk ganti gadget, hiburan luar rumah, perbaikan rumah dan terakhir baru untuk belanja baju,” katanya.

Menurut Agus, ada indikasi pemahaman masyarakat Indonesia terhadap perekonomian nasional, terutama terkait melemahnya nilai tukar Rupiah. Hal itu bahkan telah terlihat mulai dari awal tahun.

“Mereka mengakui ada ‘concern’ (perhatian) ke situ. Masyarakat sudah menyadarinya. Sekarang dengan (nilai tukar) rupiah Rp 15.000 per Dolar AS, masyarakat mulai hati-hati ‘spending’ (menggunakan uangnya),” katanya.

Sementara, Nielsen tetap mencatat konsumen Indonesia paling optimistis di dunia sepanjang triwulan kedua 2018 dengan angka 127 poin presentase dalam Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index).

Sebagai informasi, survei Keyakinan Konsumen Global yang dilakukan The Conference Board dengan Nielsen itu dilaksanakan pada 10-28 Mei 2018 dan mensurvei lebih dari 32 ribu konsumen online di 64 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Utara.

Sampel adalah pengguna internet yang setuju untuk berpartisipasi dalam survei dan memiliki kuota berdasarkan usia dan jenis kelamin untuk setiap negara.

Sampel probabilitas ukuran setara memiliki margin kesalahan plus minus 0,6 persen di tingkat global dan hanya berdasarkan perilaku responden dengan akses online.

The Conference Board menggunakan standar pelaporan minimum 60 persen penetrasi internet atau populasi online 10 juta untuk disertakan dalam survei.

Source :

merdeka.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


five × two =