Ramadan, Indikator Ketahanan Ekonomi Indonesia?

Foto: via Xinhuanet

 

Setelah habis-habisan tahun lalu, pengusaha di negeri ini terutama yang bergerak di bidang ritel, berharap pada momen puasa dan Lebaran 2018 kondisi bisa membaik. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N. Mandey, berani memprediksi penjualan ritel di bulan puasa dan Lebaran berkontribusi 30-40% dari total target penjualan selama setahun.

Ini berarti, penjualan ritel diprediksi bakal mencapai Rp 80 triliun. Sebuah nilai yang diharapkan bisa mengompensasi penurunan pada kuartal I/2018. Penjualan tertinggi di ritel, Roy menyebut, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni makanan dan minuman, serta garmen atau pakaian jadi, menyusul produk lainnya. Dia mengaku, secara umum daya beli masyarakat Indonesia saat ini masih bagus meskipun pertumbuhan industri ritel pada kuartal I/2018 anjlok 20 %.

Nah, di sini yang menarik. Di tengah harapan nan membuncah tersebut, terselip pertanyaan iseng: akankah proyeksi itu terwujud? Semua mahfum, sektor ritel tak akan bisa dilepaskan dari kinerja sektor padat karya lainnya. Boleh dibilang, jika sektor-sektor industri pengguna tenaga kerja menggeliat, sudah bisa dipastikan sektor ritel pun akan menjulang. Sektor industri nonritel akan menggeliat bila mereka mampu memutar roda perusahaan dengan lebih cepat. Perputaran yang sangat dipengaruhi oleh permintaan para pelanggan dari dalam dan luar negeri.

Sebagaimana diketahui, kondisi perekonomian global terkini menunjukkan perkembangan yang belum meyakinkan. Apalagi dengan adanya fakta kebijakan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang membuat “uang pintar” pulang kampung. Bagaimana dengan permintaan domestik? Ini juga agak mengkhawatirkan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia per April 2018 mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar, dipicu oleh defisit sektor migas US$ 1,13 miliar dan nonmigas US$ 0,50 miliar.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, kondisi defisit ini terjadi di luar ekspektasi sebab neraca perdagangan pada Maret 2018 sempat mengalami surplus US$ 1,09 miliar. Dia menuturkan, defisit ini karena adanya peningkatan impor yang sangat tinggi. Impor nonmigas April 2018 mencapai US$ 13,77 miliar atau naik 12,68% dibandingkan dengan Maret 2018. Jika dibandingkan dengan April 2017 meningkat 36,69%.

Sebaliknya, nilai ekspor per April 2018 sebesar US$ 14,47 miliar atau turun 7,19% dibandingkan dengan Maret 2018, US$ 15,58 miliar. Jika dibandingkan dengan April 2017 juga meningkat 9,01%. Ekspor nonmigas per April 2018 mencapai US$ 13,28 miliar, turun 6,8% dibandingkan dengan Maret 2018, yakni US$ 14,25 miliar. Demikian juga dibandingkan dengan April 2017, naik 8,55%.

Mengkhawatirkan? Jelas. Berarti utilisasi unit ekonomi produksi Tanah Air cenderung menurun. Jika begitu, tentu akan berdampak pada kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut memberikan penghasilan yang standar atau bahkan lebih untuk menyambut Ramadan dan Lebaran. Ujung-ujungnya, sektor retail akan mendapat pukulan telak.

Di sisi lain, tren kenaikan impor yang makin besar menandakan industri di dalam negeri belum mampu menjadi substitusi impor. Padahal, tren konsumsi kian membesar ditopang konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang mencapai 50%. Inilah yang dikatakan ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, kepada media awal Mei lalu.

Bhima bukan mengada-ada. Mengacu data BPS, impor sektor konsumsi melonjak 58,21%. Kenaikan tertinggi pada impor buah-buahan serta gula dan permen. Impor barang modal naik 18,8% didorong kenaikan impor telepon seluler dan notebook. Impor bahan baku dan penolong naik 13,31% dibandingkan dengan Februari 2017. Bila dihitung secara total, impor selama kuartal I/2017 tercatat US$ 36,68 miliar, naik 14,83% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Dengan lonjakan konsumsi, artinya butuh barang yang semakin banyak. Kalau industri dalam negeri tidak bisa memenuhi itu, tentu impor semakin besar. Atau bisa juga impor makin besar ini bukan juga karena industri tidak bisa memenuhi, tetapi harga di dalam negeri tidak kompetitif sehingga membuka impor besar-besaran,” kata Bhima, Rabu (3/5/2018).

Source :

ThePressWeek

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


2 + eleven =