Perhatikan Pola Ini ! Berikut Penjelasan Ilmuan Tentang Gempa Lombok Pagi Ini

Gempa dengan kekuatan cukup besar yakni pada magnitude 5,7 SR kembali menyapa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Foto : Google Picture

 

Gempa dengan kekuatan cukup besar yakni pada magnitude 5,7 SR kembali menyapa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pagi ini, Kamis (6/12) pada pukul 08:02:46 WIB atau pukul 09:02:47 WITA,setelah sebelumnya hilang.

Sebelumnya, Lombok diguncang ribuan kali gempa dengan kekuatan yang variatif sejak 29 Juli 2018 lalu dengan magnitude terbesar pada 7,0 SR pada 5 Agustus 2018 yang mengakibatkan porak porandanya sejumlah bangunan di Lombok.

GEMPA 7,5 SR BERPOTENSI TSUNAMI DISUSUL 6,6 SR HANTAM KALEDONIA BARU#kickinternasional https://wp.me/p6TIIQ-dVM

Posted by kicknews.today on Wednesday, December 5, 2018

Mengenai peristiwa ini, peneliti geologi yang juga Dosen di Fakultas Tehnik Sipil Universitas Mataram, Dr. Didi S Agustawijaya menerangkan, gempa Lombok pagi ini berkaitan erat dengan yang terjadi di wilayah Kaledonia Baru pada Rabu (5/12) sore waktu setempat.

“Kalau lempeng utara yang aktif, pasti ada rentetannya dari timur. Di kaledonia, Fiji atau papua. Polanya biasanya begitu,” kata Dr Didi saat dihubungi, Kamis (6/12).

Hingga saat ini wilayah Indonesia bagian timur masih sangat aktif. Daerah Mamasa masih terus terjadi gempa meskipun dengan magnitude tidak terlalu besar dan ada gempa juga kemarin tercatat di wilayah maluku dengan magnitude lumayan besar. Maka menurut Dr Didi, patut dicurigai pacific plate masih relatif lebih aktif dari yang lainnya.

GEMPA 5,7 SR GUNCANG LOMBOK PAGI INI TERASA SAMPAI BALI#kickperistiwa https://wp.me/p6TIIQ-dVV

Posted by kicknews.today on Wednesday, December 5, 2018

“Sebenarnya semuanya aktif tetapi tinggal mana yang lebih besar keaktifannya,” jelas alumni Doktoral di University of South Australia ini.

Aktifnya lempeng pasifik (pacific plate) yang terjadi kemungkinan besar akan mempengaruhi wilayah Lombok sebagai ujung dari lempeng pasifik dan hal ini akan mempengaruhi di bagian utara Lombok.

“Zona global kalau kita melihat kaitannya (gempa Lombok – red) dengan gempa yang terjadi di pasifik. Regional kalau kita melihat yang terjadi di Mamasa dan bagian timur Indonesia yang masih aktif,” paparnya.

Menurut Dr Didi, peristiwa semacam ini bukanlah coinsiden yang terjadi secara kebetulan semata, melainkan membentuk pola tertentu.

“Kalau ada pola artinya satu dengan yang lain itu terkait. Kalau coinsiden random dan tidak berpola, berarti kemungkinan tidak ada kaitannya,” katanya.

Jika dilihat dari sebaran titik gempa di wilayah timur saat ini menurutnya, terbentuk pola tertentu. Waktunya juga berdekatan dengan yang terjadi di Kaledonia Baru.

“Kalau di Kaledonia 7,5 dilihat dari alur lempengnya kemungkinan sampai juga di Lombok,” ujarnya.

Hal ini kata dia bisa merupakan peringatan dini agar meningkatkan kewaspadaan.

“Kalau di lempeng pasifik ke barat aktif dengan kekuatan mendekati 8 SR, ya kita siap-siap di ujung barat. Itu sebagai early warning system alami yang bisa dilihat,” pungkas Dr Didi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


twenty − two =