Momentum Kurangi Ketergantungan Dolar

Foto: BeritaSatu Photo Credit :David Gita Roza

 

Indonesia menjadi tuan rumah ajang internasional Annual Meeting IMF-World Bank 2018 yang akan dihelat 8 hingga 14 Oktober 2018. Acara itu menjadi momen yang bisa dimanfaatkan Indonesia untuk memperluas hubungan dagang.

Selain itu, meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan menarik investasi asing.

Dari sektor pariwisata, acara itu diharapkan bisa mengerek jumlah wisman yang masuk Indonesia. Apalagi Bali menjadi pintu masuk bagi wisatawan mancanegara di Indonesia. Peserta IMF diharapkan bisa mengunjungi daerah lain seperti Lombok. Artinya, peningkatan kunjungan wisman diharapkan tidak hanya dinikmati Bali, tetapi juga daerah lain. Sehingga target 17 juta wisman yang dicanangkan pemerintah tahun ini bisa tercapai.

Dengan begitu, akan ada peningkatan pendapatan bagi sektor UMKM, jasa travel, perhotelan, kuliner, maupun sektor ritel sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali dan sekitarnya. Selain itu, Indonesia bisa mempromosikan potensi pariwisata jika berhasil dalam penyelenggaraan AM IMF-WB 2018. Jadi, peningkatan pariwisata setelah acara itu dapat menjadi penarik investor dari Eropa maupun negara Asia seperti Jepang untuk masuk ke sektor tersebut.

Pertemuan IMF-WB kali ini sebenarnya menjadi momen peringatan 20 tahun krisis finansial di Asia, termasuk Indonesia pada 1998. Itu juga bisa menjadi momen untuk memperkuat kerja sama lintas moneter, lintas negara karena 189 negara bertemu. Misal, kita punya local currency settlement atau LCS yang baru dilakukan antara Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Hal ini membuat ketiga negara bisa menggunakan mata uang lokal seperti ringgit Malaysia atau baht Thailand dalam transaksi perdagangan atau investasi langsung. Jika kerja sama moneter ini bisa diperluas dengan negara lain, ketergantungan terhadap dolar AS bisa menurun lantaran menggunakan mata uang lokal. Pemerintah juga bisa menawarkan kerja sama investasi lewat sejumlah proyek infrastruktur dan proyek yang sifatnya investasi langsung.

Begitu pula sektor ekonomi digital yang menjadi salah satu pembahasan dan sedang berkembang di Indonesia. Pemerintah juga harus serius dalam menangkap peluang investasi dan komitmen bilateral. Jangan hanya berhenti saat acara berlangsung. Ini salah satu kesempatan Indonesia memperkuat hubungan dagang dengan Afrika melalui delegasi mereka.

Sebab, selama ini hubungan dagang Indonesia dengan Afrika belum terlalu kuat. Apalagi, adanya perang dagang antara Tiongkok-AS membuat Indonesia harus memperluas hubungan dagang. Sehingga nanti kita bisa mempunyai perjanjian kerja sama perdagangan yang strategis dengan Afrika.

Meski demikian, pemerintah harus memaksimalkan fasilitas bandara dan rute penerbangan agar memudahkan peserta AM IMF-WB 2018 menjangkau daerah tujuan wisata selain Bali. Tak hanya itu, pemerintah juga harus memperbaiki dan memastikan birokrasi perizinan dari level pusat hingga daerah prima. Jadi, saat investor mulai berdatangan dan berkomitmen investasi di Indonesia, mereka tidak kecewa dengan sistem birokrasi di Indonesia.

Source :

jawapos

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


14 + eight =