Menyoal Segitiga Emas Kawasan Industri Baru

Pemerintah bahkan mengklaim, 60% roda perputaran ekonomi nasional ada di ketiga daerah ini.

Foto: Dok Inapex

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 terancam tak mencapai target 5,4% seperti yang dicanangkan pemerintah. Kekhawatiran itu kian kentara ketika pemerintah melalui kementerian terkait mencoba beberapa strategi pertumbuhan. Strategi tersebut memacu kawasan yang memang punya pertumbuhan rendah selain mempercepat pertumbuhan daerah yang kadung dikenal sebagai pusat ekonomi.

Inilah yang terlihat oleh publik Tanah Air ketika pemerintah menyatakan berniat menaikkan status tiga daerah industri di Jawa Barat, yakni Bekasi-Karawang-Purwakarta, dikenal sebagai Bekapur, dari Kawasan Ekonomi dan Industri Terpadu (KEIT) menjadi Kawasan Strategis Nasional (KSN). Kebijakan ini bertujuan memudahkan pengembangan dan pengelolaan wilayah yang menjadi tempat beroperasi banyak perusahaan besar.

Usulan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Luhut, yang pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, menjelaskan bahwa pemerintah sudah memiliki kajian pengubahan kawasan itu. Nantinya pemerintah akan membentuk suatu badan otoritas berupa badan layanan umum (BLU) yang mengelola KSN Bekapur.

Yang menarik, publik mencatat bahwa Luhut pernah menghadap Presiden Jokowi dan melaporkan bahwa kawasan industri terpadu Bekapur lebih tepat dikembangkan sebagai kawasan metropolitan. Luhut ketika itu mengamini argumen Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, yang menilai bahwa kawasan Bekapur telah berkembang pesat dan memiliki fasilitas pembangunan infrastruktur sehingga tak lagi memerlukan insentif fiskal. Pernyataan Bambang ketika itu juga didukung oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, yang menyebut KEK lebih cocok dioperasikan di wilayah luar Pulau Jawa.

Lalu, mengapa sekarang kawasan Bekapur akan dijadikan KSN? Begitu kira-kira pertanyaan publik Tanah Air. Apalagi, publik belum lama ini mencermati berita tentang hengkangnya puluhan perusahaan dari Karawang. Berdasarkan laporan pejabat daerah setempat, sejak 2017, sebanyak 21 perusahaan memilih pindah diduga lantaran tingginya upah minimum regional (UMR) Kabupaten Karawang.

“Dalam catatan kami, sejak 2017 hingga 2018 ini, sudah ada 21 perusahaan yang pindah dari Karawang karena alasan mereka tidak mampu untuk membayar upah tinggi di Karawang,” kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang, Ahmad Suroto, Selasa (13/11/2018).

Suroto menyebut, hengkangnya 21 perusahaan tersebut mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 22.000 jiwa. Ditambah, berdasarkan laporan Disnakertrans, kata dia, pada 2019 ada lima perusahaan garmen yang bakal meninggalkan Karawang jika UMR kembali naik. Suroto menyebutkan, jika lima perusahaan tersebut hengkang, diperkirakan sebanyak 9.000 pekerja akan dirumahkan. Namun, untuk sektor manufaktur, dia mengaku belum mendapat laporan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Karawang adalah daerah dengan upah tertinggi di Jawa Barat dengan kenaikan sebesar 8,03% dari Rp 3.919.291 menjadi Rp 4.233.226 pada 2019. Berdasarkan data otoritas setempat, kenaikan tersebut diperkirakan akan berdampak bagi perusahaan di sektor tekstil, sandang, dan kulit (TSK).

Selain Karawang, Jawa Barat juga menetapkan 10 daerah dengan UMR tertinggi untuk 2019, yakni Kota Bekasi Rp 4.229.756, Kabupaten Bekasi Rp 4.146.126 4, Kota Depok Rp 3.872.551, Kota Bogor Rp 3.842.785, Kabupaten Bogor Rp 3.763.405, Kabupaten Purwakarta Rp 3.722.299, Kota Bandung Rp 3.339.580, Kabupaten Bandung Barat Rp 2.898.744, serta Kabupaten Sumedang Rp 2.893.074. Terlihat, tiga kabupaten dan kota di kawasan Bekapur masuk dalam 10 besar daerah dengan UMR tertinggi di Jabar.

Hambatan lain

Sementara itu, laporan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebutkan bahwa mereka telah mendapatkan kabar adanya investor Cina yang akan mengucurkan dana senilai US$ 500 juta atau sekitar Rp 7 triliun untuk membangun pabrik tekstil di Riau. “Iya, baru saja tadi peresmian walaupun lewat teleconference,” kata Ketua API, Ade Sudrajat, seperti dikutip Kontan.co.id, Senin (3/12/2018). Investasi tersebut lebih mengarah pada pengembangan sektor menengah atau midstream dengan membangun pabrik di Riau. “Jadi, lebih ke pemintalan, penenunan, pencelupan, dan printing.”

Bukan hanya itu, Ade mengatakan, ke depannya, ada tambahan investasi dari Cina senilai Rp 3 triliun yang akan ditanamkan ke industri tekstil di Jawa Tengah. “Itu adalah suatu bentuk keyakinan bahwa Indonesia memiliki masa depan,” ungkapnya.

Pengurus API itu mengklaim bahwa selama ini Indonesia hanya berfokus pada pengembangan industri tekstil sektor hilir (downstream) berupa industri manufaktur pakaian jadi (garmen). Dengan begitu, investasi ini membuat ongkos logistik menjadi lebih murah dan waktu pengiriman menjadi lebih cepat.

Menarik? Jelas sangat menarik. Bagaimana bisa kawasan strategis nasional dikembangkan dengan disertai begitu banyak tantangan? Sebagaimana diketahui, sebelumnya pemerintah menggadang-gadang bahwa KEK Bekapur akan menjadi pusat kegiatan ekonomi kelas dunia. Kawasan yang merupakan amanat Presiden Jokowi ini akan dikembangkan sebagai bagian terintegrasi dari konsep megapolitan Jakarta-Bandung.

Pemerintah bahkan mengklaim, 60% roda perputaran ekonomi nasional ada di ketiga daerah ini. Nantinya kawasan ini direncanakan akan terkoneksi lewat transportasi massal yang sedang disiapkan, yakni light rail transit (LRT) dan elevated toll Jakarta-Karawang yang lebih lebar, high speed rail Jakarta-Bandung, jalan tol Jakarta-Cikampek II yang lokasinya di sisi selatan dan paralel dengan ruas tol Jakarta-Cikampek saat ini, Pelabuhan Patimban, dan Bandara Internasional Kertajati.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, dalam rapat koordinasi dengan enam kementerian, tahun lalu (2/11/2017), Luhut meminta 30 pengembang di kawasan ini membuka jalan di dua sisi tol Cikampek.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


thirteen − 12 =