Kisah Cinta Sutopo dan Rakyat Indonesia, Melawan Kanker dan Bencana

Sutopo Purwo Nugroho, yang menderita kanker stadium 4, menuntun Indonesia melalui 2.300 bencana setiap tahun dan telah menjadi sosok berharga di kancah nasional. Sosoknya yang gemar berkelakar menjadikannya selebriti di media sosial. Sutopo mengatakan, ia ingin menjadi berguna.

Foto : Mata - Mata Politik

 

Sutopo Purwo Nugroho adalah orang tersibuk di Indonesia. Sebagai juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, ia menangani rata-rata 2.300 keadaan darurat setiap tahun. Tahun 2018 telah menjadi tahun yang tersibuk dalam lebih dari satu dekade, dengan serangkaian gempa bumi yang mematikan, tsunami, dan minggu lalu, sebuah kecelakaan pesawat.

Tetapi Sutopo juga berjuang melawan bencananya sendiri. Kurang dari setahun yang lalu dia didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium 4. Sekarang, penuh dengan rasa sakit dan bobot 21 kilogram lebih ringan setelah kemoterapi terbaru, dia mengatakan aliran tragedi bangsa tanpa henti membuatnya tak memikirkan perjuangannya sendiri.

“Ketika bencana melanda, terkadang saya lupa bahwa saya sakit. Saya mendapatkan dorongan adrenalin dan semangat saya kembali,” katanya dari kantornya di Jakarta. “Tapi ketika saya tidak bekerja dan saya hanya di rumah, saya merasakan sakit.”

Pria berusia 49 tahun tersebut, yang dikenal sebagai Topo, telah menjadi suara dari lembaga mitigasi bencana Indonesia selama delapan tahun terakhir, tanpa lelah memberikan informasi penting dan pembaruan di Indonesia yang merupakan salah satu negara paling rawan bencana di bumi. Ini adalah pekerjaan yang jarang menawarkan istirahat, berkat aliran gempa bumi yang tak henti-hentinya, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan tsunami yang tak terduga.

Tahun 2018 adalah tahun yang paling mematikan dalam catatan sejak 2007. Dalam waktu beberapa bulan pulau-pulau Lombok dan Bali dihebohkan oleh serangkaian gempa bumi yang menghancurkan bangunan menjadi debu dan menewaskan lebih dari 400 orang.

Foto: Guardian/Kate Lamb

Ketika Indonesia tampaknya baru saja bernapas lega, bencana alam kembali mengguncang Palu, Sulawesi tengah, ketika gempa kuat dan tsunami memusnahkan garis pantai dan bagian-bagian kota.

Pihak berwenang mengatakan jumlah korban tewas resmi lebih dari 2.000 jiwa, tetapi jumlah korban sebenarnya mungkin beribu-ribu lebih banyak. Operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan setelah seminggu, mengubah seluruh desa menjadi kuburan massal. Kemudian minggu lalu, pesawat Lion Air JT610 baru jatuh dengan kecepatan penuh ke Laut Jawa beberapa menit setelah tinggal landas, menewaskan semua 189 penumpang.

Meski tragedi penerbangan tidak berada di bawah kekuasaan Sutopo karena bukan merupakan bencana alam, ia setuju bahwa beberapa bulan terakhir telah berlangsung sangat brutal.

“Bencana alam bisa terjadi kapan saja, dari tanggal 1 Januari hingga 31 Desember,” katanya, “Sebagian besar bencana terjadi pada hari Jumat malam atau pada akhir pekan. Itu aneh!”

‘SALAH SATU PAHLAWAN INDONESIA’

Sutopo telah lama dicintai oleh awak media karena hasratnya yang tak kenal lelah untuk pekerjaannya, seperti komitmennya ketika ia menulis siaran pers dari tempat tidurnya di rumah sakit dengan infus terpasang di tangan. Akibatnya, Sutopo sekarang menjadi selebriti media sosial di seluruh negeri.

Kini bahkan para dokter dan perawatnya meminta swafoto bersama. “Saya tidak tampan,” kelakarnya, “jadi saya tidak tahu mengapa semua orang meminta saya untuk berfoto bersama.”

Mengamati akun Twitter Sutopo @Sutopo_PN akan memberikan gambaran sekilas tentang pria itu, perpaduan unik antara filsafat, puisi, romantisme, mematahkan mitos, tips kesehatan, lelucon, foto trik, dan pembaruan serius tentang bencana alam.

“Saya banyak bercanda. Jika Anda melihat, media sosial dari kementerian dan lembaga lain agak membosankan,” komentar Sutopo. “Saya tidak seperti itu.”

Salah satu foto menunjukkan dia berada di genggaman tangan gorila, sedangkan foto yang lain menunjukkan Sutopo membungkuk untuk bersiap mendapatkan suntikan jarum dari perawat, atau kepalanya yang beradu dengan dinosaurus (dia merayakan fakta bahwa mereka berdua sama-sama botak).

Dalam unggahan lain ia menyinggung penyanyi terkenal Indonesia Raisa Andriana, mempromosikan foto pre-wedding dramatis di depan gunung berapi (pada jarak yang aman), dan baru-baru ini berbicara tentang perjuangannya melawan kanker paru-paru.

Di dunia maya maupun nyata, warga Indonesia terpikat oleh pesona Sutopo. Seperti itulah kecintaan publik terhadap Sutopo sehingga setelah ia mengunggah tentang Raisa, kampanye untuk mewujudkan pertemuan antara keduanya segera diluncurkan di media sosial di bawah tagar #RaisaMeetSutopo, yang menghasilkan pertemuan mereka pekan ini.

Di kantornya, meja Sutopo ditutupi dengan paket jamu tradisional dan obat yang dikirim kepadanya dari orang-orang di seluruh negeri. Twitter dipenuhi dengan orang-orang yang mengunggah tweet ucapan terima kasih dan dorongan untuk Sutopo.

“Sangat keren, salah satu pahlawan Indonesia, saya mengacungkan jempol untuk Anda, Pak,” tulis seorang pengguna Twitter. “Saya mencintai Anda. Anda benar-benar menunjukkan kepada kami contoh tentang apa yang harus ada dalam hidup kita. Selamat berjuang, Pak Sutopo,” tulis pengguna yang lain.

Bahkan gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun memiliki sentuhan Sutopo. Di dalamnya terdapat sebuah museum, sebuah pengingat informatif untuk bencana-bencana terburuk di Indonesia, lengkap dengan diorama, peta, bagan interaktif, serta sebuah sepeda motor yang berlapis lumpur. Beberapa tanda sengaja diberikan efek untuk menunjukkan apa yang terjadi ketika gempa bumi.

Ada juga set bencana, yang memungkinkan orang untuk berpose untuk mengambil foto, yang, ketika diambil dari sudut kanan (stiker di lantai memberitahu Anda di mana) membuatnya tampak seolah-olah mereka berada di tengah gempa bumi, tanah longsor, dan gunung berapi. Sementara beberapa sudut bangunan menyerupai taman bencana alam, tujuannya adalah mendidik banyak anak sekolah yang mengunjungi gedung tersebut.

“Saya mendapatkan ini semua ketika kami pindah bangunan beberapa tahun lalu,” kata Sutopo, saat dia berpose di tempat gempa, pura-pura menyelamatkan seorang korban. “Awalnya para staf menentangnya tapi sekarang mereka menyukainya.”

Sutopo juga dikenal gemar bercanda dengan stafnya dan menawari mereka saran, termasuk: “Pada saat penerbangan, sembunyikan jam tangan Anda dan bertanyalah jam berapa saat itu, sebagai cara yang baik untuk mendapatkan teman baru.”

‘SAYA INGIN MENCOBA BERBUAT BAIK DAN MENJADI BERGUNA’

Lahir di Boyolali, Jawa Tengah, Sutopo mengatakan ia tumbuh miskin. Dia belajar dengan giat untuk mengesankan orang tuanya, ayahnya adalah seorang guru sekolah, tetapi secara tidak sengaja dia menempuh pendidikan tinggi di bidang geografi. Pilihan pertamanya adalah kedokteran.

Geografi, katanya, adalah pilihan terakhir setelah seorang teman berseloroh bahwa siapapun mudah masuk ke jurusan Geografi. Dia tidak menyesalinya dan Sutopo akhirnya mendapatkan gelar Doktor dalam fluks karbon dan perubahan iklim. Setelah tujuh tahun di sebuah unit pembuatan hujan, Sutopo dipilih untuk peran juru bicara di badan mitigasi bencana pada tahun 2010.

Ketika dia pertama kali mengetahui dia menderita kanker paru-paru stadium 4B, diagnosis yang menunjukkan kanker telah menyebar ke beberapa area dalam satu atau lebih organ, Sutopo mengatakan dia sempat berpikir untuk mengundurkan diri, tetapi tidak dapat memaksa dirinya untuk melakukannya. Bahkan ketika ia menjadi lemah secara fisik dan tidak dapat melakukan perjalanan, Sutopo mengatakan ia melihat pekerjaan itu sebagai tanggung jawab.

“Hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi seberapa bergunanya kita bagi orang lain. Itu yang saya lakukan. Meskipun para dokter mengatakan bahwa saya tidak punya banyak waktu tersisa, di hari-hari terakhir saya, saya ingin mencoba berbuat baik, untuk menjadi berguna. Itu jauh lebih baik daripada memiliki umur panjang tetapi membuat orang sengsara!”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


2 + 16 =