Kenapa aplikasi Tik Tok diblokir pemerintah?

Foto: INSTAGRAM RIDWAN KAMIL

 

Pemerintah Indonesia secara resmi memblokir aplikasi Tik Tok karena aplikasi tersebut disebut melanggar banyak pelanggaran.

“Pornografi, pelecehan agama, banyak sekali pelanggarannya,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan kepada BBC Indonesia, 3 Juli 2018.

Semuel menjelaskan bahwa Tik Tok diblokir sejak Selasa siang (03/07).

“Sebagai aplikasi media sosial yang user generated, [Tik Tok] seharusnya punya mekanisme bagaimana membuat standar konten dan bagaimana mencegah dan menyelesaikan apabila ada konten yang melanggar undang-undang kita,” kata Semuel.

Menurutnya, Kominfo telah mengontak Tik Tok untuk meminta penjelasan, tapi belum ada balasan.

Per Selasa (3/7) sore, Tik Tok masih dapat dibuka di aplikasi, tapi tidak dapat dibuka di browser dari beberapa provider dengan tulisan “Situs Terlarang”.

Warganet pun berbeda pendapat soal pemblokiran Tik Tok. Ada yang setuju karena beberapa konten yang dianggap tidak layak.

Yang tidak setuju berpendapat bahwa ada fitur pelaporan di dalam aplikasi yang seharunya bisa digunakan.

Apa itu Tik Tok?

Tik Tok menyebut dirinya sebagai komunitas video 15 detik yang kreatif.

Cara kerjanya sederhana, pengguna tinggal merekam video selama 15 detik dan menghiasinya dengan berbagai musik, filter, atau efek-efek seperti telinga kelinci, gambar hati, atau menyundul bola.

Sebelumnya ketika BBC Indonesia mencoba membuat video dengan aplikasi tersebut, filter telah terpasang otomatis ketika membuka fitur kamera. Dengan filter tersebut, wajah nampak lebih putih dan halus. Filter tersebut bisa saja dimatikan, atau diganti dengan banyak filter lainnya sesuai keinginan.

Video tersebut kemudian bisa dibagikan di dalam aplikasinya sendiri atau ke media sosial lain seperti Twitter dan Facebook.

Tik Tok adalah bagian dari Bytedance Inc, perusahaan internet raksasa Cina yang juga jadi induk usaha Musical.ly. Di negara asalnya, Cina, Tik Tok dikenal dengan nama Douyin.

Di Indonesia, Tik Tok resmi diluncurkan pada September 2017 dengan sebuah pesta peluncuran di Jakarta. Aplikasi ini dengan cepat menarik banyak perhatian.

Tik Tok menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh dari App Store di seluruh dunia, dan aplikasi paling banyak diunduh nomor 7 di seluruh dunia sepanjang kuartal pertama 2018, menurut lembaga SensorTower. Di iOS saja, aplikasi itu diunduh lebih dari 45 juta kali.

Munculnya selebritas Tik Tok

Kepopuleran Tik Tok memunculkan ‘selebritas’ baru yang terkenal karena aktivitasnya di aplikasi tersebut.

Salah satunya adalah Prabowo Mondardo, dengan akun Tik Tok Bowoo_Outt_Siders yang punya lebih dari 840 ribu fans dan video-video singkatnya telah disukai lebih lebih dari 7,4 juta kali.

Prabowo yang terkenal dengan nama Bowo dan sering menyebut dirinya sendiri dengan nama “owo” ini adalah seorang siswa SMP di Tangerang Selatan.

Bowo begitu populer sampai penggemarnya bersedia membayar Rp 80 ribu untuk hadir dalam acara jumpa fans anak berumur 13 tahun itu. Tak hanya dipuja oleh fans, tak sedikit juga orang yang kemudian menghujatnya dengan kata-kata yang tidak pantas.

Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun berfoto dengannya. “Iya de, tenang dengan saya mah gratis,” kata Ridwan Kamil di Instagramnya.

iya de, tenang dengan saya mah gratis.

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil) on

Menurut Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, fenomena kepopuleran Tik Tok adalah sesuatu yang biasa terjadi. “Ini kan hanya aplikasi yang sedang tren, seperti dulu ada euforia Pokemon, sampai ada kehebohan. Sekarang jamannya Tik Tok,” kata dia.

Menurut Heru, kepopuleran Tik Tok biasa saja sepanjang aplikasinya digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, atau setidaknya tidak merugikan. “Penggunaan aplikasi tergantung kita, kalau untuk hiburan sah-sah saja, asal tidak melanggar norma,” kata Heru.

Kepopuleran Bowo yang instan, adalah kewajaran dalam media sosial yang memangkas ‘birokrasi’ yang dulu membutuhkan televisi atau media tradisional untuk menjadi terkenal.

“Ini hal yang harus kita hadapi di era pemanfaatan teknologi informasi, sehingga wajar jika ada orang yang populer melalui aplikasi tertentu,” kata dia.

“Tidak perlu ditolak karena eranya seperti itu, asal dia tidak melanggar nilai-nilai,” kata dia. Tapi dia menyakini, mereka yang terkenal dengan cepat pun akan dilupakan jika tidak didukung dengan prestasi.

“Dengan Tik Tok, ini kan aplikasi lip sync, jadi orang harus membedakan apa yang dia lihat di media sosial mungkin tidak sama dengan kenyataan,” kata dia.

“Yang memanfaatkan aplikasi ini harus lebih bijak, orang tua harus mengawasi anaknya dan memberikan masukan mana yang boleh dan tidak boleh,” kata dia.

Dia mendukung tindakan pemerintah melakukan pengawasan. “Kalau ada konten yang berlebihan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai bisa diawasi atau ditake-down,” kata dia.

Source :

BBC

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


two × 3 =