Kelangkaan Garam, Bagaikan Ayam Mati di Lumbung Padi

 

Ironi! Kelangkaan garam terjadi di berbagai daerah. Di Jawa Tengah dan DIY, keluhan sulitnya mencari garam dan melejitnya harga merata di seantero daerah. Tak terkecuali di kawasan pesisir, kawasan produksi garam. Bak ayam mati di lumbung padi. Kelangkaan garam di negeri kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia.

Di semua daerah di Jawa Tengah dan DIY, lonjakan harga menjadi gila-gilaan. Bahkan banyak pedagang yang mengaku kehabisan stok karena tidak ada kiriman. Kelangkaan terjadi di semua jenis garam. Garam dapur, garam halus, hingga garam kasar atau garam grosok. Semua langka. Semua harganya naik tinggi, berlipat-lipat. Bahkan garam jenis grosok yang paling dirasakan kelangkaannya. Yang jelas memaksa kita menepok jidat adalah kelangkaan juga terjadi di kawasan Pantura, kawasan prosuden garam selama ratusan tahun. Mereka juga terdampak dan kesulitan mencari garam.

Jika di pesisir saja mengalami kelangkaan garam, apalagi di kawasan pedalaman. Solo dan Magelang misalnya, gudang-gudang pedagang kosong dari stok garam. Bahkan kondisi ini membuat ‘galau’ pedagang makanan. Garam sulit didapat, padahal tiidak mungkin juga jualan makanan apalagi sayuran tanpa digarami. “Sejak puluhan tahun hidup saya, baru kali ini kenaikan harga (garam) cukup tinggi,” ungkap Sulastri, pedagang di Pasar Argosari, Gunungkidul. “Stoknya cuma ini, di gudang sudah habis,” kata Wardoyo, pedagang di Pasar Legi, Solo, Selasa (25/7/2017).

Dampak yang dirasakan segara dirasakan di sektor riil. Usaha-usaha rakyat yang menggunakan garam untuk pembuatan produk, langsung terpukul karenanya. Produsen ikan asin di Jepara lesu karena kesulitan bahan baku. Produsen ikan asing di Rembang langsung menurunkan jumlah produksi. Kesulitan mencari garam, jelas menyulitkan mereka. Di Pekalongan, bahkan sebagian besar produsen ikan asin menghentikan sementara produksinya.

Usaha rakyat pembuatan telur asin di Brebes juga tak kalah terpukulnya. Mereka kesulitan mencari garam grosok. Akhirnya mereka mendaur ulang adonan pengasin. Jika biasanya adonan dipakai dua kali, kini dipakai 4 kali untuk mengasini telur itik. Di Boyolali, warga peternak sapi perah tak kalah paniknya. Garam grosok biasanya mereka pakai untuk untuk campuran ngombor atau memberi minum sapi-sapi ternak. Kini bukan hanya mahal, barangnya pun sulit didapat.

Ini bukan persoalan remeh, tapi justru aneh. Negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia mengalami krisis garam di mana-mana. Alasan bahwa tahun ini merupakan kemarau basah sehingga mengakibatkan banyak petani garam gagal panen, bukan alasan yang tepat juga.

Toh pada tahun 2016 lalu, Indonesia pernah mengalami kemarau yang ‘jauh lebih basah’. Hampir sepanjang tahun turun hujan, namun tidak diikuti keluhan kelangkaan garam di mana-mana. Semoga segera bisa diatasi. semoga cara Pemerintah mengatasi, bukan dengan membuka keran impor seluas-luasnnya dengan dalih mengatasi kebutuhan dalam negeri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


eleven − eleven =