Jasad Korban ‘Gladiator’ Masih Utuh

Source: Internet

 

Ada yang berbeda di Taman Pemakaman Umum (TPU) Cipaku Lama, Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa (19/9) pagi.

Sejumlah polisi tampak berjaga ketat di sana. Rupanya mereka menjaga lokasi pembongkaran makam Hilarius Christian Event Raharjo (15) untuk keperluan autopsi.

Hilarius merupakan siswa kelas X SMA Budi Mulia Bogor yang tewas setelah dipaksa seniornya untuk bertarung ala gladiator di Bogor, pada tanggal 29 Januari 2016 atau lebih dari 1,5 tahun lalu.

Kasus ini kembali mencuat setelah ibu korban, Maria Agnes, curhat di jejaring sosial Facebook dan meminta bantuan Presiden Joko Widodo.

Tahun lalu, kasus ini tidak sampai tuntas diselidiki karena pihak keluarga Hilarius menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jasad korban.

Kini, keluarga merelakan makam Hilarius dibongkar untuk dilakukan autopsi demi membongkar kasus ini.

Bahkan Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna tampak berada di lokasi pembongkaran makam, kemarin.

Sekitaran makam Hilarius pun dipasangi garis polisi.

Pembongkaran makam itu sendiri dimulai sekira pukul 09.15 WIB yang dilakukan oleh petugas pemakaman di TPU Cipaku.

Sementara itu, di sudut lain, tampak sebuah peti mati berwarna cokelat telah disiapkan oleh pihak keluarga.

Pidana

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna mengatakan, kasus ‘gladiator’ yang menewaskan Hilarius hingga kini masih dalam penyidikan polisi.

“Satreskrim sudah masuk buka kasus itu. Seperti kita ketahui kasus ini sudah lama namun baru ada laporan lagi dari pihak keluarga sekarang,” ucap Ulung kepada TribunnewsBogor.com, Senin (17/9) lalu.

Menurutnya, kasus tersebut harus segera dituntaskan lantaran tergolong dalam tindakan pidana.

Lebih jauh Ulung mengatakan bahwa tahun lalu seharusnya kasus tersebut bisa langsung diungkap pasca kejadian.

Sayangnya, pihak keluarga lebih memilih menolak dilakukan autopsi terhadap jasad korban sehingga kasus tersebut pun seolah telah selesai.

“Kasus ini harus dilihat dari orangtuanya, pihak sekolah, karena kasus ini terkesan ditutupi. Ketika itu polisi tahu kejadian sebenarnya satu bulan pasca kejadian,” terang Ulung.

Yang terlibat dihukum

Sebelumnya, ibu korban, Maria Agnes menjelaskan bahwa kejadian yang menewaskan putranya, Hilarius Christian Event Raharjo itu terjadi pada akhir Januari 2016.

“Ketika itu saya menolak diautopsi sehingga kasus ini terkesan sudah selesai. Walau beberapa pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah, saya ingin semua yang terlibat juga dihukum,” kata Agnes.

Dia mengatakan, bukan tanpa sebab dirinya menceritakan semua kisah mengenai kematian Hila hingga memohon bantuan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Facebook.

Melalui postingan tersebut, dirinya berharap orang nomor satu di Indonesia itu bisa membantu menyelesaikan kasus pembunuhan yang menimpa putranya itu.

“Jadi kan katanya kalau tidak autopsi tidak bisa diberikan hukuman. Saya orang awam, makanya saya minta kepada Pak Jokowi untuk memutuskan, karena surat pengakuan dari pelaku dan saksi itu sudah banyak, kenapa harus dilakukan autopsi, anak saya sudah cukup menderita,” ujarnya.

Kemarin, sebelum dilakukan pembongkaran makam Hilarius, kedua orangtuanya tampak khusyuk larut dalam doa.

Ibunya Maria Agnes dan ayahnya Raharjo, tampak menundukkan kepala sambil berdoa. Dipimpin oleh seorang pastor, keduanya begitu khusyuk saat berdoa di hadapan makam putranya itu.

Sesekali tampak Maria menyeka air matanya. Setelahnya, tampak Maria dipeluk oleh seorang wanita berkerudung hitam yang berada di sebelahnya.

Saat pembongkaran, tampak Kapolsek Bogor Utara dan Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota ikut menyaksikan.

Peti utuh

Setelah penggalian selama sekitar 1 jam, peti jenazah Hilarius berhasil diangkat.

Ternyata, peti jenazah masih utuh. Oleh petugas pemakaman, peti itu kemudian dibungkus terpal biru, lalu dipindahkan ke tenda tertutup berukuran sekitar 4 x 4 meter.

Di sanalah jasad Hilarius diautopsi oleh Tim Dokter Polisi (Dokpol) Polda Jabar yang dipimpin langsung oleh dokter ahli forensik, Kompol Dr Ihsan, dibantu tiga staf dan Urkes dan rumkit Polresta bogor Kota.

Ternyata, menurut Kombes Ulung Sampurna, bukan hanya petinya yang masih utuh, jenazah Hilarius juga masih utuh meski sudah lebih dari satu setengah tahun dikuburkan.

“Kondisi jenazah utuh,” ujar Ulung.

Dijelaskan, hasil autopsi tim Forensik Polda Jabar telah menemukan penyebab kematian korban.

“Hasil sementara nanti akan disampaikan oleh tim forensik, tapi yang jelas penyebab kematian sudah ditemukan,” ujarnya.

Dikatakannya, kasus yang terjadi pada akhir bulan Januari 2016 itu akan ditindaklanjuti ke proses penyidikan.

Sejauh ini, pihaknya pun telah memeriksa sejumlah saksi baik dari pihak sekolah, rekan korban, dan saksi lainnya.

“Kalau untuk menetapkan pelaku, sudah kita dalami. Tinggal tunggu saja. Tapi saya imbau pelaku ataupun saksi-saki lain bisa kooperatif dengan mendatangi kami dari pada kami yang harus mencari,” katanya.

Pembusukan terhambat

Dokter spesialis forensik Kompol Dr Ihsan Wahyudi mengungkapkan, jenazah Hilarius mengalami pembusukan yang terhambat.

Hal tersebut, kata dia, memudahkan pihaknya melakukan autopsi pada jenazah korban ‘gladiator’ tersebut.

“Ada beberapa bagian tubuh yang masih bagus. Mungkin karena kalau Nasrani itu biasanya diberikan formalin,” katanya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Cipaku Lama, Bogor Selatan, Kota Bogor.

Dikatakannya bahwa, setelah dilakukan autopsi, pihaknya menemukan ada beberapa kelainan pada bagian organ dalam jenazah korban.

Sayangnya, Ihsan enggan menjelaskan secara detail mengenai kelainan yang terdapat pada organ dalam tersebut.

“Saya tidak bisa menyebutkan, tapi yang jelas kita temukan ada kelainan,” terangnya.

Source :

Tribunnews

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


five × 2 =