Janjikan burger gratis jika perempuan Rusia hamil oleh pemain sepakbola, Burger King dikecam

Foto: OZAN KOSE/AFP

 

Jaringan restoran cepat saji Burger King di Rusia meminta maaf karena telah memasang iklan yang dituding melecehkan perempuan.

Iklan Burger King itu menawarkan hadiah sebesar 3juta rubel atau sekitar Rp662 juta dan burger jenis Whopper gratis seumur hidup bagi para perempuan yang dihamili oleh pemain sepakbola Piala Dunia.

“Perempuan yang berhasil mendapat keturunan pemain sepakbola terbaik, akan mempromosikan kesuksesan tim Rusia untuk generasi yang akan datang,” demikian bunyi iklan tersebut.

Sontak, promosi ini menuai kemarahan publik di negara tuan rumah Piala Dunia 2018, dan Burger King pun terpaksa menarik iklan itu.

“Ini adalah refleksi langsung dari bagaimana rendahnya masyarakat kita memandang perempuan,” tutur salah satu komunitas feminis dalam aplikasi Telegram.

Di berbagai iklan dan media, kaum perempuan di Rusia digambarkan sebagai “pemangsa seksual” yang memburu mangsanya.

Artikel-artikel di media pro-Kremlin menggambarkan cara mereka “menjerat para penggemar bola dari negara asing”.

Berbagai judul yang dianggap tak pantas bermunculan di media Rusia. Surat kabar Moskovskiy Komsomolets menulis: “Rayuan Cinta: Perempuan-perempuan cantik yang memikat pria-pria asing. Sementara situs olahraga Championat menulis “Bagaimana perempuan-perempuan cantik dari Rusia menjerat pria asing”.

Bahkan, dalam salah satu video di YouTube, seorang pembawa acara di negara itu mengatakan, “ratusan atau ribuan perempuan genit berbondong-bondong ke Moskow” dengan harapan bertemu dengan penggemar sepakbola asing.

Situs olahraga Championat juga setiap harinya membuat artikel tentang “para perempuan cantik penggemar Piala Dunia”, dan beberapa blogger terkemuka kemudian mengikuti jejak mereka pula.

Iklan dihapus
Iklan di jejaring sosial Vkontake yang menjanjikan burger gratis bagi para perempuan yang hamil oleh pemain sepakbola, yang kini sudah ditarik.

Seksime di Rusia

Retorika semacam ini bukan hal baru di Rusia yang sudah tidak lagi menganut sistem komunis: di sana suara-suara feminis nyaris tak terdengar.

Perdebatan soal peran gender juga tak banyak mendapat perhatian di televisi Rusia, dan kalaupun ada, program-program televisi yang menayangkan tentang feminisme kerap dianggap sebagai propaganda Barat yang mencoba merusak nilai-nilai tradisional Rusia.

Dan tampaknya belum ada reaksi balik dari kalangan perempuan Rusia.

Pegiat hak-hak perempuan Alyona Popova, mengatakan kepada BBC sikap perempuan Rusia dinilai masih kurang lantang.

“Jika dari berbagai sudut kaum laki-laki berteriak bahwa perempuan hanyalah dinilai dari tubuhnya, dan mencari berbagai dalih untuk membenarkan pelecehan seksual, dan menyalahkan korban kekerasan dalam rumah tangga atas apa yang terjadi, maka kaum perempuan jadi menganggap bahwa ini adalah norma,” katanya.

Popova mencontohkan skandal pelecehan seksual yang baru-baru ini yang melibatkan anggota parlemen Rusia terkenal, Leonid Slutsky, yang dituduh oleh beberapa wartawan telah melakukan pelecehan seksual.

Meski publik marah atas skandal ini, sang anggota parlemen masih tetap menduduki jabatannya setelah komisi etika parlemen membersihkannya dari semua tuduhan.

Video fans Brasil dan Rusia
Perempuan Rusia yang tidak disebutkan namanya ini, tidak menyadari bahwa ia menjadi subyek dari nyanyian yel-yel tak senonoh.

Yel-yel bernada seksis tak menjadi perdebatan

Brasil dibuat gempar dengan kemunculan video yang memperlihatkan para penggemar sepak bola Brasil menyanyikan yel-yel tak senonoh dalam bahasa Portugis dengan seorang perempuan Rusia, namun di Rusia sendiri tak banyak reaksi yang muncul.

Perempuan yang tampaknya tidak berbicara dalam bahasa Portugis itu, terlihat tersenyum dan mencoba bernyanyi bersama dengan penggemar Brasil, ia tidak menyadari bahwa nyanyian yel-yel itu adalah tentang bagian-bagian tubuhnya. “Saya rasa ia tengah berpikir bahwa pria itu berjanji akan memboyongnya ke luar negeri,” canda salah seorang pengguna Telegram.

Maka petisi daring pun digulirkan, meminta otoritas setempat mengadili mereka yang terlibat dalam video tersebut. Beberapa dari mereka yang turut serta menyanyikan yel-yel itu telah diidentifikasi di media Brasil.

Alyona Popova mengeluh bahwa undang-undang di Rusia justru seolah mendorong warga negara asing untuk “merasa bebas memperlakukan perempuan Rusia sebagaimana tubuhnya”.

Saat ini tidak ada undang-undang tentang pelecehan di Rusia, meskipun ada upaya untuk itu menyusun undang-undang itu setelah skandal Slutsky.

“Kami harus berjuang demi citra baru kaum perempuan di media. Sebaliknya, mereka menggunakan setiap kesempatan untuk mempromosikan citra yang salah,” kata Popova.

Source :

BBC

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


four × two =