Jangan Sampai Ada Politisasi Bencana Lombok

Foto: AgusSuparto/BiroSetpres

 

Indonesia kembali berduka. Gempa bumi berkekuatan 7 skala Richer (SR) mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu malam, 5 Agustus 2018. Ini bukan gempa dahsyat pertama. Sepekan sebelumnya, gempa menguncang Lombok dengan kekuatan 6,4 SR. Belum hilang trauma, gempa lebih dahsyat terjadi, bahkan sempat ada imbauan deteksi tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sampai sekarang, gempa bumi susulan masih sering terjadi di Lombok. Daerah yang mengalami gempa susulan dan terdampak paling parah adalah Lombok Utara dan sebagian Lombok Timur. Sampai sekarang gempa susulan masih saja terjadi, kendati tidak sebesar gempa pada Minggu malam lalu.

Warga terdampak gempa pun mengungsi. Sejauh ini penanganan pascagempa termasuk cepat. TNI dan Polri ikut turun langsung ke lapangan membantu pendirian tenda pengungsi dan bantuan lainnya. Kendati demikian, bantuan berupa kebutuhan bahan pokok masih dibutuhkan untuk keperluan korban gempa karena akses komunikasi terputus. Pemerintah sudah menyediakan layanan BTS mobile agar akses komunikasi bisa terjalin dengan daerah lain.

Belum ada kepastian angka soal korban jiwa. Tim SAR sampai saat ini masih terus melakukan evakuasi reruntuhan bangunan yang diduga menimpa sejumlah warga. Alat berat sudah didatangkan dari Bali, Surabaya, untuk mempercepat evakuasi korban.

Bukan hanya bangunan, dampak gempa mulai terasa karena ribuan pengungsi sudah mulai terserang berbagai macam penyakit. Diare dan gangguan pencernaan adalah penyakit yang kebanyakan diderita para pengungsi, disebabkan kurangnya air bersih sehingga mudah terjangkit kuman penyakit dari makanan yang dikonsumsi.

Bukan itu saja, bantuan yang diberikan pun rupanya belum merata. Ini disebabkan akses ke Lombok Utara terbilang sulit. Dalam kondisi normal saja jalanan menuju Lombok Utara menanjak dan berbukit. Apalagi dalam kondisi bencana, tentunya akan semakin sulit dan rawan longsor. Respons cepat dan bantuan dari pemerintah pusat masih terus dibutuhkan, terutama untuk logistik para pengungsi dan trauma healing untuk anak-anak pascagempa.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat agar mendistribusikan bantuan secara merata. Jangan sampai ada daerah yang berlimpah bantuan, sementara masih ada daerah yang kekurangan. Tim pendataan harus cepat melakukan update terbaru terkait wilayah terdampak, banyaknya pengungsi, posko pengungsi, dan apa saja yang dibutuhkan. Update terkait kebutuhan logistik harus dilakukan dengan cepat agar tidak terjadi kekurangan.

Respons pemerintah

Presiden Jokowi langsung merespons gempa bumi yang terjadi di Lombok. Jokowi, secara pribadi dan pemerintah menyampaikan duka mendalam terhadap bencana yang terjadi. Kendati belum meninjau langsung lokasi bencana, Jokowi sudah memerintahkan Menkopolkhukam, Wiranto, mengoordinasikan jajarannya untuk menangani berbagai macam kebutuhan pascagempa.

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, sudah membangun lima posko untuk penanganan trauma pada anak dan perempuan. Lima posko tersebut terdapat di Pemkab Lombok Utara, Pemkab Lombok Timur, Pemkab Lombok Barat, Kantor Provonsi NTB, dan Pemkot Lombok.

TNI Angkatan Udara sudah bergerak sesaat setelah gempa terjadi. Bukan hanya bantuan evakuasi, TNI AU hari ini dikabarkan mengirimkan tiga pesawat Hercules yang berisi sukarelawan, tim medis, dan juga logistik bantuan untuk korban gempa. TNI AU juga memnyediakan posko bantuan untuk masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan.

Respons yang bisa dibilang baik dan cepat. Hanya saja ini masih mengundang kritik karena Jokowi tak segera turun tangan langsung ke lokasi bencana. Jokowi memang sudah meninjau lokasi bencana ketika gempa pertama terjadi pada 29 Juli 2018, tetapi sejak gempa yang lebih dahysat mengguncang 5 Agustus lalu, Jokowi belum mengunjungi Lombok.

Pastinya jangan sampai ada politisasi terhadap bencana alam yang sekarang ini terjadi. Jokowi belum sempat mengunjungi Lombok, tetapi dia sudah memerintahkan jajarannya untuk turun tangan. Semoga Jokowi terus memantau perkembangan gempa Lombok melalui jajarannya, kendati sedang sibuk mempersiapkan diri dalam pendaftaran capres yang akan ditutup Jumat, 10 Agustus mendatang.

Jika bantuan belum merata, itu karena medan sulit dan masih dipelajari oleh tim dari luar. Tentunya mereka juga butuh penyesuaian agar tidak terkena bahaya dan aman selama proses pendistribusian logistik.

Source :

ThePressWeek

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


five × four =