Dua Pesilat Tewas Dikeroyok Bonek di Surabaya

Source: Internet

 

Dua anggota Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) Perwakilan Surabaya tewas dikeroyok suporter Persebaya saat berkonvoi naik sepeda motor menuju Gresik. Keduanya tewas setelah terlibat tawuran dengan Bonek di kawasan Jalan Balongsari, Tandes, Surabaya

Mereka tewas dalam perjalanan ke rumah sakit, Minggu (1/10) dini hari. Sepeda motor yang dinaiki korban juga ikut dibakar massa Bonek. Kedua korban adalah pesilat yang tertinggal dari rombongannya saat berkonvoi dari Surabaya menuju Gresik.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam acara mediasi kedua pimpinan perwakilan komunitas itu menyatakan sangat menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut. Ia atas nama Pemkot Surabaya meminta maaf dan mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga korban. Bersama perwakilan Polrestabes Surabaya, pemkot juga menyampaikan santunan kepada masing-masing keluarga korban.

“Minggu sore kami langsung melalui perwakilan bertakziah ke rumah korban Muhammad Anis (22), ayah satu orang anak balita warga Jalan Simo Pomahan III/41, RT-08/RW-02 Suko Manunggal, Surabaya dipimpin Waka Kapolrestabes, Kadispora dan Bagian Kesra. Sedang ke rumah korban Aris Eko (25), kakak kandung Muhammad Anis warga Desa Tlogorejo, Kabupaten Bojonegoro dipimpin oleh Kapolsek Tandes, Kabid Olahraga Dispora dan Bagian Kesra,” ujar Risma, Minggu sore.

“Jenazah almarhurm Muhammad Anis baru dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Simo Tambakan, Surabaya, Minggu tadi malam,” ujar isteri Muhammad Anis, Dita Yuli Fauziah. Sementara jenazah almarhum Aris Eko dimakamkan di TPU Tlogorejo, Bojonegoro, Senin (2/10) hari ini.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Mohammad Iqbal dalam jumpa persnya kemarin sore menjelaskan, bentrokan korban dengan komunitas suporter Bonek itu kini masih diselidiki. Iqbal berjanji akan mengusut hingga tuntas kasus ini.

Dia belum bisa mengungkapkan peristiwanya yang memakan korban jiwa itu. Kepada kedua komunitas, baik suporter maupun pesilat diminta untuk saling menahan diri, dan dilarang keras melakukan aksi balas dendam.

Ia mengimbau kepada pelaku untuk segera menyerahkan diri. Iqbal meminta Koordinator Suporter Persebaya, Andi Peci yang juga sebagai saksi mata karena berada di TKP, ikut membantu menemukan identitas pelaku pengeroyokan kedua korban.

Andie di tempat yang sama menandaskan, dirinya dalam peristiwa itu ikut mengantarkan korban luka kritis ke rumah sakit. “Saya ada di lokasi. Saya yang mengantar dua korban ke rumah sakit,” ujarnya pascaacara mediasi bersama Kapolrestabes Surabaya, Wali Kota Tri Rismaharini dan Ketua PSHT Perwakilan Surabaya, Maksum Rusakin.

Sementara itu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di tempat yang sama mengatakan, pihaknya (Pemkot Surabaya) sudah berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya untuk melakukan pengusutan lebih lanjut. Polisi sendiri belum mengetahui motif saling serang antarkedua komunitas itu.

Pemkot Surabaya sudah berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya guna mengusut kasusnya. “Yang salah tetap salah. Agar tidak ada yang saling balas dendam,” kata Tri Rismaharini.

Tertinggal Konvoi

Sementara itu sumber di tempat kejadian perkara (TKP) yang berdekatan dengan pompa benisn (SPBU) Balongsari itu menyebutkan, aksi brutal oknum Bonek itu terjadi ketika korban berboncengan sepeda motor yang hendak menuju Gresik tertinggal dari rombongan konvoinya.

Ada oknum Bonek yang berteriak agar menghentikan laju motor korban yang tertinggal dari rombongan konvoinya dengan menyebut kedua pesilat itu dituding kurang ajar karena berani menerobos rombongan suporter di TKP.

Diduga ada oknum suporter yang sengaja meneriakkan agar menghentikan paksa motor korban, kedua korban kemudian dikeroyok ketika mencoba mempertahankan motornya yang hendak dirampas oknum Bonek. Di antara Bonek ada yang membawa senjata tajam dan korban tewas akibat kehabisan darah karena darah mengucur deras dari luka bacokan di bagian kepalanya.

Andie Peci sendiri secara tegas berjanji siap membantu polisi mengusut kasus itu karena ia menilai ada sesuatu yang tidak nalar (tidak masuk akal) yang mengakibatkan jatuhnya dua korban jiwa. “Sulit dinalar. Saya juga kecewa musibah ini terjadi. Semoga ini (peristiwa) yang terakhir (korban ketidaknalaran Bonek),” tandasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


2 + fourteen =