Drama Rizieq Shihab di Arab Saudi

Tak ada yang tahu secara pasti. Namun, berdasarkan berita yang beredar di masyarakat melalui media sosial, insiden ini sejatinya telah mengalami pembelokan mendasar.

Foto: Dok. Istimewa

 

Masyarakat Indonesia akhirnya mendapatkan penjelasan gamblang dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab. Intinya, tokoh ulama asal Petamburan, Jakarta Pusat itu merasa telah menjadi korban fitnah.

Pernyataan itu disampaikan Habib Rizieq lewat video yang ditayangkan Youtube Front TV. Dia didampingi oleh istri dan anak-anaknya. Habib Rizieq menyebut benda yang terpasang di kediamannya di Arab Saudi bukan bendera, melainkan poster yang dipasang dengan doubletip. Dia mengatakan poster itu dipasang oleh orang tak dikenal.

Di tanah air telah ramai diperbincangkan bahwa pada akhirnya Rizieq mengakui bahwa bendera hitam itu adalah bendera ISIS. Pasalnya, sebelum insiden di Arab Saudi itu, Rizieq Shihab pernah menyerukan untuk mengibarkan bendera dan panji Rasulullah SAW di seluruh posko-posko FPI. Hal itu dilakukannya usai insiden pembakaran bendera dengan kalimat tauhid oleh oknum anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU).

Instruksi itu diklaim telah diserukan Habib Rizieq langsung dari Mekah, untuk mendukung aksi bela tauhid di Indonesia. “Seruan: Cabang FPI di seluruh Indonesia, wajib mengibarkan bendera & panji Rasulullah SAW di posko-posko FPI,” tulis Habib Rizieq dalam akun twitternya @RizieqShihabFPI, Rabu (24/10/2018).

Tak hanya anggota FPI, Habib Rizieq juga meminta agar seluruh simpatisan FPI dan anggota Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk melakukan hal yang sama. “Imbauan juga untuk simpatisan FPI & Mujahid-Mujahidah 212, umumnya umat Islam Indonesia untuk pasang & mengibarkan bendera serta panji Rasulullah SAW. Allahuakbar!,” seru Habib Rizieq dalam akun twitternya.

Lebih lanjut, Rizieq pun mengatakan dalam videonya bahwa yang ditempelkan di dinding rumahnya bukanlah bendera. “Ada satu pihak, entah seseorang atau mungkin lebih dari satu orang, telah menempelkan dengan doubletip, yaitu suatu poster yang terbuat dari plastik, di dinding rumah saya atau tempat tinggal saya atau kami semua, bagian sebelah luar, yaitu di wilayah belakang rumah,” ungkap Rizieq, Jumat (9/11/2018).

Kemudian seperti yang diketahui bersama, rumah Rizieq pun didatangi aparat keamanan Arab Saudi. “Mereka datang dengan santun, dengan sopan, kemudian meminta saya selaku penghuni rumah untuk menemui mereka di lapangan parkir di belakang rumah saya, maka saya segera menemui mereka,” ungkapnya. Saat keluar rumah, poster itu sudah tidak ada. Rizieq menyebut poster itu dicabut oleh aparat.

“Pada saat saya keluar dari rumah, poster yang saya sebutkan tadi itu sudah tidak ada, sudah dicabut oleh aparat keamanan Arab Saudi. Jadi saya tidak pernah lihat poster yang dipasang tersebut. Nah, kemudian dalam pertemuan saya bersama dengan para aparat keamanan tadi, mereka meminta kesediaan saya untuk ikut ke kantor polisi dalam rangka untuk dimintai keterangan,” ucap Habib Rizieq.

Rizieq mengaku tidak ingin menarik perhatian tetangga. Dia menegaskan tidak ditangkap, ditahan, maupun digeledah.

“Nah, karena saya tidak ingin menjadi perhatian tetangga atau perhatian orang, adanya aparat keamanan yang datang, saya setuju dan saya berangkat, yaitu bersama mereka. Jadi tidak betul kalau ada berita saya ditangkap, saya ditahan, rumah saya disergap kemudian digeledah, itu semua bohong. Jadi tidak ada penggeledahan, tidak ada penyergapan. Yang ada mereka datang, mereka turunkan poster, mereka meminta saya menemui mereka, dan mereka minta kesediaan saya untuk memberi keterangan di kantor kepolisian,” ungkapnya.

Dia lalu memberi keterangan di kantor polisi. Habib Rizieq menegaskan dia tidak memasang poster itu dan tidak tahu siapa yang memasangnya. Dia kemudian dilepas. “Saya dilepas oleh kepolisian Arab Saudi karena memang saya sebagai korban, jadi saya dilepas tanpa jaminan apa pun, sekali lagi tanpa jaminan apapun,” katanya.

Pernyataan Rizieq itu berbeda dengan apa yang dikatakan Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Kepada media Agus menyatakan bahwa Habib Rizieq dikeluarkan dari tahanan dengan jaminan. “Pada 6 November 2018 pukul 20.00 waktu Saudi, dengan didampingi oleh staf KJRI, MRS [Muhammad Rizieq Shihab-Red] dikeluarkan dari tahanan kepolisian Mekah dengan jaminan,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Rabu (7/11/2018).

Dalam rilis resminya itu, Dubes Indonesia untuk Arab Saudi itu tak menjelaskan lebih jauh bentuk jaminan yang diberikan. Namun, Agus dalam keterangan tertulisnya juga menyatakan bahwa ia mengirimkan Diplomat Pasukan Khusus. Setelah Habib Rizieq dilepas oleh polisi dan intelijen Arab Saudi, KBRI juga berkomitmen terus memberikan pendampingan kekonsoluleran terhadap imam besar FPI itu.

“Pada tanggal 6 November 2018, Dubes RI langsung memerintahkan Dipassus (Diplomat Pasukan Khusus) yang merupakan gugus tugas reaksi cepat untuk berangkat ke Mekah dan memastikan kabar yang beredar tersebut,” ujar Agus.

Agus mengatakan, KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah akan selalu memberikan pendampingan kekonsuleran dan pengayoman kepada MRS dan seluruh warga negara Indonesia (WNI), para ekspatriat Indonesia yang menghadapi masalah hukum yang  berada di Arab Saudi. “KBRI dan KJRI akan mewakafkan diri untuk pemihakan dan pelayanan kepada seluruh ekspatriat Indonesia di Arab Saudi,” tuturnya.

Mengherankan? Tentu saja. Bagaimana mungkin terjadi perbedaan pernyataan resmi antara WNI dan wakil pemerintah di negara asing? Ada apa gerangan? Begitu kira-kira pertanyaan publik yang menyeruak di berbagai kanal media.

Pertanyaan pun berlanjut di sekitar kemungkinan terjadinya konspirasi terhadap Rizieq, terutama dengan menafsirkan bahwa kegiatan pemasangan benda mirip “bendera” ISIS itu sebagai sesuatu tindakan terencana. Padahal, belum ada pernyataan resmi baik dari pemerintah Arab Saudi maupun Indonesia.

Ketika dimintai konfirmasi terpisah, pengacara Habib Rizieq, Eggi Sudjana, menyatakan bahwa kliennya sama sekali tidak terkait dengan ISIS. Menurutnya ada fitnah yang sengaja dimainkan dalam peristiwa ini.

Pendapat Eggi itu senada dengan apa yang diutarakan Fadli Zon. Politikus asal Partai Gerindra itu mengungkapkan bahwa apa yang terjadi terhadap pimpinan FPI itu adalah fitnah keji. Melalui akun twitternya @fadlizon, Kamis (8/11/2018), dia menuliskan bahwa bisa jadi orang yang memasang bendera ISIS di rumah Habib Rizieq merupakan orang lain. Dalam status tersebut Fadli mengaku, dia mendapat pengaduan dari keluarga Habib Rizieq. Tak hanya itu, Fadli juga menyebutkan bahwa rumah Habib Rizieq berada di lokasi umum.

Berbeda dengan tanggapan Fadli yang mengatakan Habib Rizieq difitnah, Fahri Hamzah lebih mengkhawatirkan penanganan kasus tersebut. Menurut Fahri, yang diungkapkan melalui twitternya @Fahrihamzah, Kamis (8/11/2018), penanganan yang salah dapat merusak hubungan diplomatik Indonesia dan Arab Saudi.

“Saya hanya mengkhawatirkan cara penanganan HRS oleh pemerintah saat ini akan merusak hubungan diplomatik yang telah kita bangun lama dengan Arab Saudi. Soal ini gampang dan hanya mensyaratkan dua hal saja; jujur dan jangan rekayasa. HRS bukan orang sulit diajak ngomong,” tulis Fahri, Rabu (7/11/2018).

Apakah kasus ini merupakan kasus rekayasa? Tak ada yang tahu secara pasti. Namun, berdasarkan berita yang beredar di masyarakat melalui media sosial, insiden ini sejatinya telah mengalami pembelokan mendasar. Sebelumnya ramai diberitakan di media sosial bahwa yang tertempel adalah bendera, ternyata “hanya” sebuah poster.

Sebuah kampanye negatif via medsos, yang direspon dengan sesuatu yang lebih shahih dari Habib Rizieq.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


twenty − 16 =