Dedi Mulyadi Beri Solusi untuk Petani di Bekasi Sambil Unjuk Kebolehan Nyabit Padi

Source : okezone

 

Para petani di Desa Karang Mekar, Kecamatan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan sistem pengupahan baru oleh tuan tanah yang berupa uang tunai. Hal tersebut dianggap makin menyulitkan ekonomi petani, dibandingkan sistem pengupahan bagi hasil panen.

Keluh kesah para petani itu diungkapkan di hadapan calon Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) nomor urut 4, Dedi Mulyadi, yang khusus berkunjung di desa yang sedang masa panen raya tersebut.

Menurut salah satu petani, Acim (45), di desa tersebut sudah banyak tuan tanah yang memberi upah berupa uang. Sekalipun ada yang memberikan upah bagi hasil, jumlahnya sangat tidak sebanding. Misalnya dari 7 kilogram padi yang dipanen, petani hanya mendapat upah 1 kilogram saja.

“Perbandingannya 1 : 7 Pak, tapi kebanyakan pakai upah uang. 1 : 7 saja itu sudah berat sekali buat kami,” keluh Acim di lokasi panen, Selasa (6/3/2018).

Ia menjelaskan, sistem pengupahan uang membuat buruh tani semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama dalam hal pangan.

“Bayangkan saja selama ini kondisi buruh tani, setiap hari pegang beras tapi susah dapat beras. Ada pola perubahan yang aneh, buruh tani diupah dengan uang, tidak dengan padi. Uang memang mudah dibelanjakan, tetapi kami kesulitan mendapatkan beras,” ungkapnya.

Dedi Mulyadi yang sedari tadi mendengarkan, sangat miris melihat kondisi para petani di Desa Karang Mekar. Meski tak memiliki hak untuk ikut andil dalam hal pengupahan oleh tuan tanah, namun ia memberikan solusi lain yang dianggap mampu meringankan beban para petani, terkait resiko pekerjaan yang mereka lakoni.

Menurutnya, para buruh tani harus memiliki asuransi kecelakaan kerja dan asuransi tanaman padi, dimana kedua hal tersebut sangat dibutuhkan petani untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

“Kalau mereka dipatok ular atau kecelakaan di sawah, siapa yang mau mengobati kalau tidak ada asuransi? Kalau padinya tidak diasuransikan, darimana buruh tani dapat penghasilan kalau gagal panen? Mereka bisa jatuh miskin untuk kedua kalinya,” tegasnya.

Pasangan Deddy Mizwar di Pilgub Jabar itu juga menyampaikan program ‘satu dokter satu desa’ yang dinilai dapat menjadi solusi bagi kesehatan para petani. Melalui program ini, petani yang mengalami sakit akan mendapat pengobatan tuntas dan terjamin.

“Anggarannya cukup kok dari provinsi. Kalau kurang, ya dibantu via APBD kabupaten/kota masing-masing. Kita harus sinergis untuk keberlangsungan hidup para buruh tani,” jelasnya.

Sebelumnya, mantan Bupati Purwakarta itu unjuk kebolehan menyabit padi bersama para petani lain di area sawah, saat berlangsungnya panen raya. Dedi yang sejak kecil sudah merasakan hidup bertani, dengan lihai menyabit satu-persatu tanaman padi yang sudah menguning, dengan memakai arit yang dipinjamnya dari salah satu petani.

“Saya baru tahu ada pejabat yang pandai motong padi. Ini sih petani beneran, cekatan dan sabitannya rapi,” kata Bejo (56), petani setempat.

Melihat kemahiran Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu dalam menyabit padi, para petani pun dibuat geleng-geleng keheranan. Mereka tak mengira Dedi yang notabene seorang pejabat, sangat lincah memainkan arit dan memanen padi, tak ubahnya seperti petani asli.

“Wah, ini sih petani di sini bisa kalah sama Pak Dedi. Ini mah beneran nyabit padi, bukan pura-pura nyabit padi,” teriak Dadan (71), petani lain yang ikut takjub dengan aksi Dedi.

Source :

okezone

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


one × two =