Dampak Perang Dagang Bakal Hambat Pertumbuhan RI

ilustrasi: via MetroMerauke

 

JAKARTA  —  Dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) – Tiongkok dinilai berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, perang tarif impor antara dua Raksasa Ekonomi Dunia itu akan menyusutkan perdagangan global sehingga akhirnya memukul kinerja ekspor nasional. “Kita lihat ekspor agak melambat ada perang dagang serta proteksi dan ada fluktuasi harga komoditas.

Kalau terus berlangsung, akan menghambat pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga,” ujar peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus, di Jakarta, Rabu (8/8). Untuk itu, dia menyarankan pemerintah berupaya serius menggalakkan ekspor agar setidaknya bisa meningkatkan pangsa ekspor Indonesia di dunia. Pasalnya, pangsa ekspor Indonesia selama lima tahun terakhir semakin menyusut.

“Artinya, pangsa pasar ekspor Indonesia diambil oleh negara kompetitor. Langganan kita di luar negeri diambil oleh kompetitor sehingga ekspor tidak bisa memberikan peranan yang tinggi untuk pertumbuhan ekonomi,” jelas Heri.

Pangsa ekspor Indonesia terhadap total ekspor dunia pada 2013 mencapai lebih dari 1 persen, namun pada 2017 pangsanya menyusut menjadi 0,9 persen. Ekspor tidak mampu mendongkrak produk domestik bruto (PDB).

Pada 2015, ekspor masih berperan 21,16 persen terhadap PDB, namun pada kuartal II-2018 menyusut menjadi 20,35 persen. Heri menambahkan, di tengah- tengah penurunan kinerja ekspor, impor justru kian merajalela sehingga Indonesia semakin menjauh dari kemandirian

. Impor yang semakin melonjak disebabkan peningkatan dari berbagai setiap golongan barang, mulai dari barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal.

Sepanjang semester I-2018, impor barang konsumsi tumbuh melebihi impor bahan baku, yakni sebesar 21,64 persen. Sementara itu, impor bahan baku tumbuh 21,54 persen. Perlahan tapi pasti, porsi impor barang konsumsi telah semakin melebar.

Pada 2013, porsi impor barang konsumsi masih 7 persen, namun saat ini telah mencapai 9,2 persen.

Heri mengungkapkan kondisi ini menyebabkan peranan neraca perdagangan dalam pertumbuhan ekonomi semakin pudar. Untuk pertama kali sejak 2014, neraca perdagangan menjadi faktor yang mereduksi pertumbuhan ekonomi dengan pangsa -0,52 persen.

Terkait dampak perang dagang lainnya, ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan perang dagang yang memicu ketidakpastian global membuat dollar AS menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, termasuk rupiah.

Menurut dia, dampak pelemahan rupiah itu akan terkonfirmasi di pertumbuhan ekonomi pada semester II-2018. “Pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku jadi lebih mahal. Akibatnya, menciptakan apa yang disebut imported inflation,” kata Bhima.

Menurut Bhima, apabila sebelumnya kenaikan harga tidak terlalu dirasakan karena barang yang dijual di pasar adalah barang 3–4 bulan yang lalu atau stok lama. Sekarang produsen harus menyesuaikan dengan biaya produksi yang baru dan di transmisikan ke pembeli.

“Ketika harga barang naik, masyarakat cenderung menahan belanja. Efek ke konsumsi rumah tangga melambat,” kata dia. Padahal, sekitar 56 persen komponen PDB disumbang oleh konsumsi rumah tangga.

“Jika konsumsi turun, berpengaruh ke sektor lainnya sehingga pertumbuhan ekonomi akan terhambat,” tukas dia.

Putaran Pertama

Sementara itu, pada Selasa (7/8), pemerintah AS mengumumkan putaran pertama sanksi tarif impor barang-barang impor Tiongkok yang mencapai 50 miliar dollar AS akan mulai berlaku 23 Agustus mendatang.

Sebelumnya, Washington telah memberlakukan tarif 25 persen senilai 34 miliar dollar AS pada produk-produk negara itu pada 6 Juli lalu.

Negara itu menahan sisa 16 miliar dollar AS akibat kekhawatiran perusahaan- perusahaan AS atas dampak berantai yang ditimbulkan dari kebijakan itu.

Pengumuman tersebut menyiratkan tidak ada upaya untuk meredakan perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia yang terus saling melempar ancaman itu.

Beijing membalas AS dengan tarif impornya, dan bersumpah untuk memberlakukan tindakan serupa dari tiap dolar AS yang dikenakan pada sanksi tarif baru, termasuk 16 miliar dollar AS pada putaran berikutnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


fifteen + 1 =