Bertualang ke Pulau King Kong

Foto: DessySavitri//ThePressWeek

 

Sudahkah Anda menonton film King Kong versi waralabanya, Kong: Skull Island? Film keluaran tahun 2017 itu berkisah mengenai suatu pertempuran pada 1944 di tengah-tengah Perang Dunia II antara pilot pesawat tempur Amerika Serikat (AS) dan Jepang di Pasifik Selatan. Saat bertarung di sebuah pulau, mereka terganggu dengan hadirnya kera-kera raksasa serupa king kong.

Pada 1973, agen pemerintah AS mengadakan ekspedisi untuk memetakan sebuah pulau yang baru-baru ini ditemukan yang dikenal sebagai Pulau Tengkorak (Skull Island). Pengawal militer mereka adalah skuadron helikopter tentara yang baru kembali dari Perang Vietnam. Namun, mereka diserang oleh kera yang sama dari tahun 1944. Sejumlah orang terbunuh, korban selamat tercerai berai di pulau itu.

Trang An, sebuah daerah di Vietnam yang terkenal akan wisata goanya, adalah lokasi syuting film blockbuster ini. Dengan mengambil tema pulau tengkorak yang misterius, pemerintah Vietnam giat mengampanyekan Trang An sebagai destinasi wisata turis domestik dan mancanegara.

Movie set Kong: Skull Island (Foto: Dessy Savitri)

Ibu Kota Abad ke-10

Trang An terletak sekitar 100 kilometer dari Hanoi, ibu kota Vietnam, dan kira-kira 7 kilometer dari jantung kota Ninh Binh. Untuk berkunjung ke sana, Anda membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari Hanoi.

Terletak di dekat batas selatan Red River Delta (Delta Sungai Merah), kompleks lanskap Trang An adalah pemandangan spektakuler dari kumpulan gunung kapur yang dipenuhi pepohonan hijau rimbun di antara sungai yang menjadikannya lembah yang sangat indah. Sebagian besar gunung kapur tersebut terendam dan dikelilingi tebing curam, nyaris vertikal.

Di sini juga ada goa-goa di bawah gunung, daratan hutan hujan, kuil dan pagoda serta situs bersejarah Hoa Lu. Di sinilah ibu kota lama Vietnam, Hoa Lu, berada pada abad ke-10 dan 11. Pada masa itu kumpulan gunung kapur ini menjadi benteng untuk menghalau musuh kerajaan. Kekaisaran Tiongkok mencoba menguasai Vietnam dengan menyerang ibu kota Hoa Lu di Trang An. Namun, upaya Tiongkok gagal karena lokasinya yang susah ditembus berkat dikelilingi pegunungan batu kapur.

Pakai Sampan

Bersampan dan menikmati alam yang sejuk dan asri (Foto: Dessy Savitri)

Untuk menguak tabir keindahan alam di sini kita harus naik perahu kecil dari bambu. Setelah bersampan di sungai yang tenang dalam udara yang sejuk dan alam yang cantik sejauh mata memandang, kita akan diajak memasuki suatu kegelapan dalam celah yang sempit.

Melalui celah yang sempit, perahu masuk dalam kegelapan goa (Foto: Dessy Savitri)

Goa-goa di sini kaya dalam bentuk dan jenisnya. Bermacam-macam stalaktik, stalakmit, dan tembok batu sejak ribuan tahun lalu tercipta di tempat ini. Stalaktit adalah batuan runcing dan berlubang-lubang lancip yang ujungnya mengarah ke bawah goa. Stalaktit terbentuk dari kalsium karbonat yang mengendap serta mineral-mineral lainnya, yang terendap dalam larutan air bermineral.

Sebaliknya, stalagmit adalah batuan yang berada di bagian dasar atau lantai goa, merupakan batuan lancip yang biasanya terbentuk berlapis-lapis dengan bagian ujung yang mengarah ke atas. Batuan ini terbentuk dari kumpulan kalsium karbonat yang berasal dari air yang menetes.

Menyusuri goa dengan bersampan adalah suatu petualangan yang bisa membuat adrenalin Anda naik saat masuk ke goa yang memiliki stalaktit sangat rendah dan beberapa ujungnya menonjol. Anda akan merasa khawatir kepala tersangkut atau terbentur di sana. Pemandu sekaligus pendayung, yang sebagian besar adalah perempuan, akan menyuruh kita menundukkan kepala. Bahkan sebagian orang yang berbadan tinggi tidak mau ambil risiko, mereka langsung berbaring merebahkan tubuh di perahu.

Saat perahu menyusuri goa semakin jauh ke dalam kita akan merasa seakan tiada akhirnya serta tidak ada jalan ke luar. Kegelapan goa menjadikan suasana semakin mencekam. Apalagi belum lama ini ada peristiwa terjebaknya anak-anak sekolah di goa wisata di Thailand yang menghebohkan dunia. Namun, kita hanya perlu bersikap tenang dan percaya pada pemandu supaya bisa menikmati petualangan seru ini.

Wisatawan diajak mengelilingi pagoda di tengah sungai (Foto: Dessy Savitri)

Jejak Manusia Purba

Di kompleks eko-wisata Trang An ini terdapat 48 buah goa bersungai (ada sungai yang mengalir di dalam goa) dan 31 lembah air (lembah di tengah perairan). Dalam perjalanan ini perahu berhenti beberapa kali di daratan. Para turis lalu turun dan berjalan-jalan untuk melihat-lihat eksotisme tempat-tempat tersebut.

Di dalam goa, para peneliti menemukan jejak-jejak manusia purba. Seperti di goa Trong ada jejak dari manusia prasejarah pada 3.000-30.000 tahun yang lalu, Goa Boi memiliki jejak manusia prasejarah pada kira-kira 10.000 tahun lampau.

Eksplorasi goa di ketinggian yang berbeda telah mengungkapkan jejak arkeologi dari aktivitas manusia selama lebih dari 30.000 tahun. Mereka menggambarkan penguasaan gunung-gunung ini oleh para pemburu musiman serta bagaimana mereka beradaptasi dengan perubahan iklim dan lingkungan, terutama setelah zaman es terakhir. Kisah pendudukan manusia itu berlanjut melalui Zaman Neolitik dan Perunggu ke era sejarah Hoa Lu, ibu kota kuno Vietnam.

Keindahan yang Menakjubkan

Keluar dari kegelapan goa, perahu membawa wisatawan ke suatu lembah air yang indah dikelilingi dinding perbukitan karst dan pepohonan hijau asri. Pemandangan alam di sini luar biasa memukau. Perahu akan didayung pelan-pelan supaya kita bisa memandangi kemegahan yang terhampar di depan mata.

Jarak perahu dengan dasar air yang sangat jernih begitu dekat sehingga tumbuh-tumbuhan air dan ikan-ikan yang berlalu lalang terlihat jelas. Terkadang ada beberapa hewan seperti itik liar hilir mudik di antara perahu. Selama dua jam wisatawan diajak menikmati keindahan alam yang menakjubkan.

Pulau Tengkorak

Setelah mengelilingi sungai dan goa-goa di sana, kita tiba di suatu pulau, Kong atau Pulau Tengkorak. Ada dua buah kuil yang cukup besar di sana. Selanjutnya kita diajak berjalan kaki menuju sebuah desa dengan rumah-rumah kayu berbentuk kerucut. Penduduk asli desa menyambut dengan membawa tombak dan parang. Jangan takut dulu! Ini adalah properti film Kong: Skull Island yang dilestarikan menjadi objek wisata. Kita bisa berfoto dengan para “penduduk asli” di rumah mereka.

Penduduk asli Pulau Tengkorak “menangkap” wisatawan (Foto: Dessy Savitri)

Berbagai peninggalan syuting film yang terdapat di pulau ini diburu wisatawan untuk berfoto. Dengan latar belakang pemandangan spektakuler tak heran kalau para wisatawan ingin mengabadikannya.

Setting film menjadi obyek wisata (Foto: Dessy Savitri)

Situs Warisan Dunia

Pada 23 Juni 2014, Kompleks eko-wisata Trang An yang indah permai ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization) oleh World Heritage Committee di Doha, Qatar.

Trang An merupakan campuran Situs Warisan Budaya dan Alam. Selain keajaiban alamnya, tempat ini dianggap mempunyai nilai sejarah, budaya dan edukasi yang tinggi. Karena itu UNESCO menetapkannya sebagai situs warisan dunia yang harus terus dijaga dan diharapkan dapat dijadikan destinasi wisata menarik.

Trang An dengan landskapnya yang menakjubkan (Foto:_vietvision)
Source :

ThePressWeek

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


4 × two =