Bea Masuk Turun, RI Harus Maksimalkan Ekspor ke China

Source : Liputan6

 

Untuk mendorong surplus neraca dagang, Indonesia harus mampu memaksimalkan ekspor produk-produk non minyak dan gas (migas) ke China. Selain itu, Indonesia juga harus menambah negara-negara tujuan ekspor baru.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, ekspor non-migas Indonesia ke China pada bulan lalu mencapai US$ 1,919 miliar. Ia memperkirakan pemerintah akan terus menargetkan China sebagai pasar ekspor utama. Hal itu turut didorong oleh pemotongan bea masuk barang-barang ke sana.

“China masih yang dominan porsinya, sekitar 14 persen terhadap total ekspor. Mereka juga memangkas bea masuk 187 barang untuk mendorong konsumsi di negaranya, antara lain obat, makanan, dan pakaian,” tuturnya kepada Liputan6.com di Jakarta, seperti ditulis pada Minggu (18/2/2018).

“Ini kesempatan bagus bagi Indonesia untuk genjot ekspor ke China tahun ini. Bea masuk barang-barang itu akan turun dari rata-rata 17,3 persen menjadi 7,7 persen,” imbuh dia.

Namun begitu, Bhima menegaskan, bahwa pasar ekspor negara jangan hanya berpatok terhadap China semata. Menurutnya, banyak negara lainnya yang dapat dijadikan tujuan ekspor.

“Pemerintah sekarang tinggal melakukan beberapa terobosan. Diversifikasi negara tujuan ekspor ke Afrika, Eropa Timur dan Rusia. Kemudian lakukan diplomasi dagang untuk membuka potensi ekspor barang barang baru,” himbau dia.

Untuk mendorong ekspor, pemerintah pun harus memberikan insentif kepada pihak yang terlibat. “Jangan lupa memberi insentif bagi pelaku industri berorientasi ekspor melalui kemudahan izin, kredit usaha dan insentif pajak,” tukasnya.

Neraca Dagang Indonesia

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia alami defisit US$ 670 juta pada Januari 2018. Indonesia alami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara antara lain China, Thailand.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, ada surplus US$ 182 juta di sektor non minyak dan gas (migas). Akan tetapi, impor naik sehingga tercatat defisit neraca perdagangan US$ 670 juta pada Januari 2018.

“Untuk nonmigas ada surplus US$ 182 juta tapi terkoreksi dengan ada defisit migas. Sehingga total neraca perdagangan defisit pada 2018,” kata Suhariyanto pada Kamis 15 Februari 2018.

Ia menambahkan, neraca perdagangan Indonesia juga alami defisit sejak Desember 2017. Pada Desember 2017, Indonesia alami defisit US$ 0,27 miliar yang dipicu defisit sektor migas US$ 1,04 miliar. Namun neraca perdagangan sektor nonmigas surplus US$ 0,77 miliar. Suhariyanto mengharapkan defisit tidak terjadi pada Februari.

“Kami harap ini tidak terjadi lagi pada bulan berikutnya sehingga neraca perdagangan surplus,” kata dia.

Suhariyanto menambahkan, neraca perdagangan Indonesia alami defisit dengan sejumlah negara antara lain China sebesar US$ 1,8 miliar, Thailand sebesar US$ 211 juta dan Australia sebesar US$ 178,2 juta.

Source :

liputan6

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


two × three =