Bagaimana Milenial Melihat Politik dan Pemilu di Indonesia

Kaum milenial mencakup 34,5 persen hingga 50 persen dari total penduduk Indonesia, namun setengah dari mereka menjauhkan diri dari politik. Menurut Sandiaga Uno, kaum milenial melihat politik dan pemilu di Indonesia sebagai ‘kotor dan membosankan’.

Foto: AFP/Romeo Gacad

 

Seiring kampanye untuk Pemilihan Presiden Indonesia sedang berlangsung dan pemilu di Indonesia sendiri dijadwalkan akan berlangsung tahun depan, sebuah laporan baru-baru ini mencatat bahwa kaum milenial di Indonesia tidak puas dengan perpolitikan negara tersebut.

Laporan ini didasarkan pada penelitian internal yang dilakukan oleh tim kampanye calon presiden Prabowo Subianto, yang menunjukkan bahwa setengah dari kaum milenial kemungkinan tidak akan memilih karena mereka melihat politik sebagai apa yang disebut oleh pasangan Prabowo, Sandiaga Uno, sebagai “terlalu kotor dan terlalu membosankan.”

“Sekitar 50 persen generasi milenial sebagian besar menjauhkan diri, mereka tidak menggunakan hak pilihnya, dan tidak terlalu tertarik dengan politik. Kami harus terus bekerja keras dan menggenjot isu-isu yang relevan dengan mereka, dan kami perlu meyakinkan mereka, jika tidak, mereka tidak akan datang ke bilik suara,” kata Sandiaga seperti dikutip.

Menurut Syafiq Hasyim—rekan tamu di Program Indonesia Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam (RSIS), Singapura—populasi milenial di Indonesia saat ini membentuk sekitar 34,5 persen hingga 50 persen dari total penduduk. Sementara itu, Syafiq mendefinisikan milenial sebagai mereka yang berusia antara 15 hingga 35 tahun. Usia pemungutan suara di Indonesia adalah 17 tahun, meskipun, siapa pun dengan Kartu Tanda Penduduk (kartu identitas) dapat memilih.

PENGANGGURAN DI KALANGAN MASYARAKAT MUDA

Beberapa “masalah” yang tampaknya mematikan ketertarikan pemuda Indonesia termasuk korupsi, lingkungan, dan pengangguran.

Meskipun tingkat pengangguran secara keseluruhan berada pada angka lima persen yang rendah, namun hal tersebut bagi banyak pemuda Indonesia tidak sama cerahnya, menurut data dari Bank Dunia.

Memberikan statistik untuk masyarakat Indonesia yang berusia antara 15 hingga 24 tahun, Bank Dunia menempatkan tingkat pengangguran tahun 2017 mereka di angka 15,2 persen, dan walau itu adalah peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2015 di mana tingkat pengangguran adalah 16,7 persen, namun itu masih lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2016) di mana angkanya adalah 14,9 persen.

Masalah ini semakin diperparah ketika membandingkan angka-angka antara tahun-tahun sebelum Presiden Joko “Jokowi” Widodo menjabat dan orang-orang setelahnya. Pada tahun 2014, ketika Jokowi menjabat, pengangguran di kalangan pemuda mencapai 15,2 persen, sebelum melonjak satu tahun setelah ia menjadi presiden. Bahkan, pengangguran di kalangan pemuda turun menjadi 14,9 persen pada 2012, dua tahun sebelum Jokowi mulai berkuasa.

Prabowo dan Sandiaga telah mencatat tidak hanya tentang pentingnya suara milenial, tetapi fakta bahwa salah satu isu inti tampaknya adalah pengangguran di kalangan masyarakat muda. Sejalan dengan itu, mereka telah menggunakan paling tidak sebagian dari kampanye mereka seputar masalah ini. Bahkan, pada awal Mei, Prabowo mengecam peraturan presiden yang akan memudahkan perusahaan lokal untuk mempekerjakan pekerja asing.

“Tidak ada orang di dunia yang ingin membuka pintu mereka untuk orang asing (dengan cara yang kami lakukan),” katanya ketika berbicara kepada Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pada Hari Buruh Internasional pada tanggal 1 Mei 2018.

Para analis setuju bahwa komentar Prabowo tentang pekerja asing tersebut bermotif politik. Baiq Wardhani—Dosen Hubungan Internasional di Universitas Airlangga—menunjukkan bahwa topik pekerja asing bisa menjadi isu hangat untuk kampanye 2019, dan menambahkan bahwa Prabowo jelas ingin menarik lebih banyak suara dengan menggunakan masalah ini dan reaksi negatif dari banyak masyarakat Indonesia sejak Jokowi mengeluarkan peraturan presiden tersebut.

Dosen Politik di Universitas Fajar, Kardina Karim Hamado, setuju, dan mengatakan bahwa niat itu “murni” tentang pemilihan presiden, karena dua alasan: waktu pidatonya dan pembingkaiannya.

Sumber: Bank Dunia

MEMENANGKAN MASYARAKAT MUDA

Syafiq menulis bahwa kaum milenial Indonesia akan menentukan arah Pemilihan Presiden Indonesia tahun depan, karena jumlahnya yang signifikan.

“Kandidat presiden yang mampu berpikir, menyerap, dan mengakomodasi aspirasi mereka, mungkin akan berada pada posisi yang baik untuk menang,” katanya.

Walau Jokowi telah berusaha untuk membuat dirinya lebih dapat berhubungan dengan pemuda, namun para analis mencatat bahwa pasangannya dan ulama konservatif berusia 75 tahun Ma’ruf Amin, menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan tim tersebut untuk memenangkan masyarakat Indonesia yang lebih muda. Di sisi lain, konservatisme Ma’ruf mungkin saja menjadi peluang untuk mendapatkan suara penduduk Indonesia yang semakin konservatif untuk mendukung tim tersebut.

Sedangkan di sisi Prabowo, pria militer yang sebelumnya kaku tersebut, sejak itu mengambil sikap yang lebih santai dan mudah didekati juga. Sementara itu, pasangannya, Sandiaga—yang merupakan mantan Wakil Gubernur Jakarta—dipandang sebagai moderat. Pengusaha muda ini dianggap lebih bisa berhubungan dengan pemuda dibandingkan dengan ulama berusia 75 tahun itu.

Jajak pendapat telah mengindikasikan bahwa Jokowi saat ini adalah pilihan yang lebih populer jika dibandingkan dengan Prabowo, tetapi jika Prabowo memainkan kartunya dengan tepat selama kampanye, ia mungkin membalikkan posisi Presiden Indonesia itu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


12 − three =