Antara Krisis Listrik dan Krisis Lingkungan: Kontroversi PLTU Celukan Bawang

Foto: Made Nagi/Greenpeace

 

Konsumsi listrik nasional terus meningkat seiring bertambahnya akses listrik, gaya hidup, pertumbuhan industri, perdagangan, dan pariwisata di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi listrik Indonesia 2017 mencapai 1.012 kiloWatt per hour (kWh) per kapita, naik 5,9% dari tahun sebelumya.

Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 kWh per kapita. Pada 2018, rasio elektrifikasi di semua provinsi sudah di atas 70%, kecuali di bagian timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua. Pulau-pulau kecil dan terdepan di Indonesia juga masih kesulitan mendapat pasokan listrik.

Wilayah kepulauan seringkali mengalami masalah pasokan listrik. Sistem jaringan listrik yang saling terkoneksi mengalami kendala karena harus menyeberangi laut. Akibatnya, banyak pulau yang belum teraliri listrik, terutama pulau kecil dan pulau-pulau di bagian timur Indonesia.

Bali, sebagai pulau yang dekat dengan pulau utama, Pulau Jawa, juga masih punya masalah dengan pasokan listrik. Kebutuhan listrik di Bali dipasok dari tiga sumber utama, yaitu PLTU Gilimanuk, PLTG Denpasar, dan sambungan kabel bawah laut Jawa-Bali. Total daya dari ketiga sumber tersebut hanya sedikit lebih besar dari kebutuhan Bali sehingga cukup riskan jika terjadi gangguan atau pemeliharaan pada salah satu sumber. Saat ini saja Bali sudah beberapa kali mengalami pemadaman bergilir.

Bali berpotensi mengalami defisit listrik pada 2021 karena pertumbuhan konsumsinya tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas pasokan listrik secara memadai. Tingkat beban puncak di wilayah Bali naik 6,18% per tahun. Pada 2017, tingkat beban kelistrikan di Bali sebesar 852 MW. Jika pertumbuhan konsumsi listrik di Bali tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas pasokan, dikhawatirkan Pulau Dewata akan mengalami kekurangan listrik sekitar 30%.

Pembangunan pembangkit listrik baru dapat menjawab masalah pasokan listrik di Bali. Salah satunya adalah PLTU Celukan Bawang, yang diresmikan pada 2015. PLTU Celukan Bawang menggunakan batu bara dalam operasionalnya karena harganya yang lebih murah dari minyak bumi sehingga dapat menekan biaya produksi. Pasokannya pun tidak menjadi masalah karena diambil dari Sumatra dan Kalimantan yang kaya akan batu bara.

PLTU Celukan Bawang berlokasi di daerah pesisir pantai utara Bali. Di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Daerah ini memang cocok untuk pembangunan PLTU karena dekat dengan sumber air yang besar.

Tentunya ada dampak positif dan negatif akibat PLTU Celukan Bawang. Greenpeace Indonesia bersama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Lembaga Bantuan Hukum Bali, dan masyarakat sekitar, menolak pembangunan tahap dua PLTU Celukan Bawang di lokasi existing saat ini. Mereka menggugat keputusan Gubernur Bali yang mengizinkan PLTU Celukan Bawang membangun pembangkit 2×330 MW. Ya, Gubernur I Made Mangku Pastika telah memberikan izin lingkungan bagi proyek ini.

Pihak yang menolak menyarankan pemerintah untuk mulai memanfaatkan energi terbarukan, seperti negara lain. Contohnya adalah Cina yang mulai membatasi impor batu bara dan beralih menggunakan energi terbarukan. Cina mampu memasok listrik sebesar 53.000 MW dari energi terbarukan. Menurut mereka, karena Cina beralih ke energi terbarukan, harga batu bara mengalami penurunan sehingga Indonesia mulai banyak menggunakan batu bara.

Direktur LBH Bali, Dewa Putu Adnyana, mengungkapkan bahwa pemberian izin Amdal kepada PLTU Celukan Bawang untuk membangun pembangkit tahap kedua dinilai cacat karena diterbitkan tanpa adanya pelibatan masyarakat yang terdampak proyek ini. Menurut juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Didit Haryo, pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap kedua merupakan ancaman bagi lingkungan dan manusia. Mereka menggugat izin Amdal untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi pembangunan pembangkit bersumber dari batu bara. Benarkah?

Menanggapi kekhawatiran pihak yang menolak, Kepala Badan Lingkungan Hidup Bali, Gede Suarjana, menerangkan bahwa pembangunan tahap dua PLTU Celukan Bawang yang berkapasitas 2×330 MW diprediksi tidak akan menghasilkan emisi yang melebihi ambang batas Baku Mutu Lingkungan Hidup sehingga izin lingkungan bisa dikeluarkan. Suarjana juga memaparkan bahwa walaupun nantinya menghasilkan karbon monoksida, sulfur dioksida, partikulat, dan nitrogen oksida, gas-gas tersebut tidak akan berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan masih aman karena jarak emisi yang berada pada ketinggian maksimal. Gas-gas tadi akan dibawa angin kemudian diikat oleh partikel lain. Gubernur Pastika juga menegaskan bahwa teknologi PLTU Celukan Bawang tahap dua akan menggunakan teknologi mutakhir sehingga menghasilkan udara yang bersih. Teknologi PLTU batu bara hasil pembakaran melalui proses bakar kembali. Dua kali pembakaran membuat udara keluar lebih bersih dan memenuhi baku mutu.

Investasi Jangka Panjang

Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Ida Bagus Made Parwata, pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap dua ini menyerap investasi sebesar Rp1,5 triliun. Proyek ini telah mengantongi izin prinsip dari pemerintah pusat terlebih dahulu sebelum izin lingkungan dari pemerintah Bali dikeluarkan. Izin prinsip dikeluarkan sejak 2014 oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) lantaran masuk dalam penanaman modal asing.

Rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang Buleleng dilaksanakan oleh tiga perusahaan, yaitu China Huadian Engineering Co. Ltd. yang memiliki saham sebesar 51%, Merryline International Pte. Ltd asal Singapura dengan kepemilikan saham 38,49%, dan PT General Energy Indonesia 10,51%. Permohonan izin prinsip telah diajukan oleh PT General Energy sejak 13 Agustus 2014. Kemudian, izin baru dikeluarkan oleh BKPM pada 19 Agustus 2014.

Selain dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik yang semakin besar akibat pariwisata, PLTU ini diharapkan dapat membuat daerah sekitar Celukan Bawang menjadi kawasan industri karena pasokan listrik yang cukup. Apalagi daerah tersebut sudah menjadi pelabuhan yang besar.

Pembangunan kawasan industri di sekitar pelabuhan merupakan alasan yang cukup rasional untuk memotong biaya pengangkutan. PLTU ini juga dapat menambah lapangan kerja baru walaupun perlu waktu untuk mempersiapkan tenaga terampil agar dapat bekerja di sana.

Difa Kusumadewi – ThePressWeek

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


16 + 15 =