Alasan Angkat Kisah Kepulauan Banda dengan Dokumenter

 

‘Banda The Dark Forgetten Trail’, merupakan film yang mengangkat cerita mengenai kepulauan Banda sebagai daerah penghasil rempah-rempah, terutama pala. Di masa kejayaannya, sebuah pala pernah dianggap lebih berharga dibandingkan emas.

Lalu, mengapa pihak pembuat film memilih menyajikan film dalam bentuk dokumenter? “Sejarah Banda Neira itu begitu banyak, begitu menarik, itu mengapa saya bikin dokumenter. Karena, kalau saya membuatnya menjadi film fiksi akan ada fragmen-fragmen dari sejarah yang terlewat, yang tidak tersampaikan,” ungkap produser Sheila Timothy ditemui di Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (26/7/2017) malam.

Sedangkan sutradara Jay Subiyakto juga mengungkapkan, ia menolak untuk membuat film tentang sejarah yang diperankan ulang oleh aktor. “Kalau itu kan harus bikin pengadeganan lagi, jadi harus ada aktor, harus ada orang yang didandanin persis gitu. Janganlah nanti merusak (imajinasi) orang yang nonton,” kata Jay. “Karena sbenernya kalau kita baca sejarah, itu ada imajinasi di kepala kita. Jadi, saya nggak mau merusak itu dengan bikin (film reka ulang) tapi nanggung,” ujarnya lagi.

Jay Subiyakto sendiri, mengaku berusaha memberi kesempatan pada penonton untuk memiliki imajinasinya sendiri. Hal itu ia wujudkan dalam visual pada filmnya. “Makanya saya bikin dengan animasi, atau lebih kaya siluet, jadi orang bisa punya imajinasi yang lain gitu,” tutur Jay Subiyakto.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


7 + 20 =